Nasib rupiah berbeda dengan mayoritas mata uang Asia yang justru bergerak di zona hijau. Dolar Singapura menguat 0,15 persen, peso Filipina 0,15 persen, baht Thailand 0,13 persen, dan yen Jepang 0,13 persen.
Namun, beberapa mata uang lainnya justru berada di zona merah. Dolar Hong Kong melemah 0,02 persen, won Korea Selatan minus 0,02 persen, dan ringgit Malaysia minus 0,01 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan sentimen, Reza bilang potensi penguatan rupiah berasal dari pengesahan Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2019 menjadi UU. Dalam APBN 2019, asumsi makro kurs rupiah sebesar Rp15.000 per dolar AS diterima oleh mayoritas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Selain itu, kecenderungan penguatan rupiah hari ini bisa datang dari rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sebab, pasar berekspektasi bahwa inflasi IHK masih cukup rendah secara kumulatif. Rilis data inflasi sendiri baru akan diumumkan pada pukul 11.00 WIB.
Sementara sentimen yang bisa memberi pengaruh pelemahan pada rupiah, yaitu meningkatkan kisaran imbal hasil (yield) surat utang AS atau US Treasury. "Ada juga imbas dari stagnannya pergerakan yen Jepang setelah Bank of Japan masih mempertahankan kebijakan moneternya," pungkasnya.