Sekretaris Jenderal GAPKI Togar Sitanggang memperkirakan harga sawit akan membaik di tahun depan dari kisaran US$540-550 per metrik ton menjadi US$600-650 per metrik ton. Kenaikan harga akan didorong oleh meningkatnya permintaan seiring turunnya stok meski produksi diramal meningkat.
"Implementasi B20 akan menjadi pendorong utama minyak sawit tahun depan," ujar Togar dalam Konferensi Sawit Internasional (IPOC) 2018 di Nusa Dua, Bali, Jumat (2/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekspor oleochemical naik dari 1,1 juta metrik ton menjadi 1,2 juta metrik ton. Konsumsi domestik diperkirakan meningkat dari 9,5 juta metrik ton menjadi 9,97 juta metrik ton, ekspor biodiesel. Sementara ekspor biodiesel diperkirakan turun dari 1,72 juta metrik ton menjadi 1 juta metrik ton dan stok akhir turun dari 3,35 juta metrik ton menjadi 2,84 juta metrik ton.
Togar bahkan optimis kebutuhan konsumsi biodiesel bisa lebih tinggi dari proyeksi 5,5 juta metrik ton, seiring implementasi B20 yang sudah dapat berlaku penuh sepanjang tahun.
Chairman dari LMC International James Fry juga memperkirakan permintaan CPO akan meningkat seiring dengan kenaikan permintaan biodiesel yang diperkirakan meningkat signifikan pada tahun depan.
Ia pun memperkirakan harga CPO yang saat ini lebih murah US$50 per ton berpeluang berbalik arah menjadi lebih mahal US$150 per ton dari harga minyak mentah Brent pada tahun depan. Selain didorong oleh kenaikan harga CPO, kondisi ini juga didorong oleh penurunan harga minyak.
Sementara Dorab E Mistry, Direktur Godrej Internasional memperkirakan kenaikan harga sawit pada tahun depan akan lebih banyak didorong oleh turunnya produksi seiring siklus. Ia pun mengingkatkan agar industri sawit di Indonesia tak hanya mengandalkan biodiesel untuk menyerap produksi.
"Jika harga minyak bumi turun dan (harga) biodisel menjadi tidak lagi atraktif. Ini berarti subsidi menjadi solusi. Kondisi ini suatu saat akan menjadi masalah bagi industri minyak nabati. Saya perkirakan ini akan terjadi," pungkasnya.