Di kawasan Asia, mayoritas mata uang turut melemah dari dolar AS. Peso Filipina melemah 0,41 persen, renminbi China minus 0,32 persen, dan ringgit Malaysia minus 0,22 persen.
Kemudian, dolar Hong Kong minus 0,18 persen, won Korea Selatan minus 0,12 persen, dan baht Thailand minus 0,12 persen. Hanya dolar Singapura dan yen Jepang yang menguat masing-masing 0,02 persen dan 0,05 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, mata uang utama negara maju justru mayoritas menguat dari dolar AS. Hanya dolar Australia dan franc Swiss yang melemah, masing-masing minus 0,08 persen dan minus 0,02 persen.
Sedangkan euro Eropa menguat 0,01 persen, dolar Kanada 0,02 persen, rubel Rusia 0,19 persen, dan poundsterling Inggris 0,21 persen.
Namun, menurutnya, ada pula sentimen yang perlu diwaspadai karena bisa menekan penguatan rupiah, yaitu rilis data Non-Farm Payroll Amerika Serikat (NFP) mengenai penciptaan lapangan kerja dan upah.
"Meski diperkirakan masih ada peluang kenaikan, namun juga diwaspadai potensi terapresiasinya dolar AS dengan telah dirilisnya data ketenagakerjaan AS yang mengalami kenaikan," ucap Reza, Senin (5/11). (uli/bir)