Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan pertumbuhan tersebut akan disokong konsumsi rumah tangga. Untuk itu pemerintah perlu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok terutama pada momen Natal dan pergantian tahun nanti agar pertumbuhan tersebut bisa dicapai.
Menurutnya, ada potensi gejolak harga kebutuhan pokok khususnya beras saat perayaan dua momen tersebut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya ancaman defisit beras lantaran tidak terjadi panen raya pada periode Oktober-Desember.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini harus diantisipasi bagaimana pemerintah supaya mereka punya instrumen stabilitasi harga beras sampai akhir tahun," kata Enny di Jakarta, Rabu (7/11).
Selain harga kebutuhan pokok, pemerintah juga perlu mencermati dampak depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang bisa mengerek inflasi atas barang impor (imported inflation). Enny mengatakan transmisi pelemahan rupiah terhadap harga bahan baku belum tampak pada triwulan II dan III 2018 kemarin.
Enny melanjutkan, gejolak harga minyak dunia akan menjadi tantangan pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2018. Asal pemerintah memegang komitmen tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dan penugasan, Enny yakin pertumbuhan ekonomi bisa dijaga pada kisaran 5,1 persen.
"Kalau ini bisa dijaga, pertumbuhan di triwulan IV 2018 masih bisa di kisaran 5,1 persen lagi," ucap Enny.
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi pada sepanjang kuartal III 2018 sebesar 5,17 persen secara tahunan. Angka ini lebih kecil dibanding kuartal sebelumnya, yakni 5,27 persen.
Namun pertumbuhan tersebut masih lebih tinggi dibanding kuartal III tahun lalu yang hanya 5,06 persen.