Di kawasan Asia, hanya yen Jepang dan dolar Singapura yang bertahan di zona hijau dengan menguat masing-masing 0,11 persen dan 0,04 persen.
Sementara mata uang lainnya berada di zona merah bersama rupiah. Won Korea Selatan melemah 0,65 persen, peso Filipina minus 0,27 persen, ringgit Malaysia minus 0,24 persen, baht Thailand minus 0,12 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,04 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Fed Tetap Pertahankan Suku Bunga Acuan |
Selanjutnya, mata uang utama negara maju lebih bervariasi. Franc Swiss melemah 0,02 persen, rubel Rusia minus 0,02 persen, dan dolar Australia minus 0,02 persen. Namun, poundsterling Inggris stagnan. Sedangkan euro Eropa menguat 0,03 persen dan dolar Kanada 0,02 persen.
Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini sepenuhnya akan dipengaruhi oleh sentimen kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve. Meski, potensi sentimen lain, khususnya yang bersifat politis dari global masih ada.
Dalam pernyataannya tadi malam, The Fed memutuskan untuk menahan tingkat suku bunga acuan mereka di posisi 2-2,5 persen. Keputusan ini diambil karena bank sentral menilai fundamental ekonomi AS masih cukup kuat.
Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata di kisaran 3,3 persen sepanjang Januari-September 2018. Kemudian, tingkat pengangguran di kisaran 3,7 persen pada September 2018.
Kendati kembali menahan tingkat bunga pada bulan ini, namun hampir sebagian besar anggota komite bulat mengharapkan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan untuk keempat kalinya di 2018 ini pada Desember mendatang.