Buce Yeef, Direktur Bakrieland Development mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu izin OJK untuk merealisasikan langkah reverse stock. Ia masih berharap pengajuan yang dilakukan sejak Mei 2018 bisa disetujui OJK.
Sebab, perusahaan akan merugi besar jika harus melakukan debt to asset swap. Buce pun tak merinci aset mana saja yang berpotensi ditukar atau dijual untuk membayar utangnya kepada kreditur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi kalau itu harus dilakukan ya sudah, kalau bisa tahun ini ya tahun ini kita hit loss (merugi) semua ya sudah. Kalau tidak bisa dilakukan tahun ini ya tahun depan," papar Buce, Senin (19/11).
Dalam laporan keuangan kuartal III 2018, total liabilitas perusahaan mencapai Rp4,16 triliun. Angka itu terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar Rp2,8 triliun dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp1,36 triliun.
Maka itu, Geo Link Indonesia meminta perusahaan untuk melakukan reverse stock sebagai bagian dari negosiasi Bakrieland Development terkait restrukturisasi utang dengan cara konversi menjadi saham melalui skema reverse stock dengan rasio 10:1.
Pagu pinjaman yang diberikan oleh Geo Link Indonesia sebenarnya mencapai Rp500 miliar. Artinya, masih ada sekitar Rp186,5 miliar yang bisa ditarik oleh Bakrieland Development.
"Untuk kepastian reverse stock kami menunggu dari OJK, kalau OJK bilang oke ya kami Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Nanti kuorum tidak, kalau tidak kuorum ya bubar," ujar Buce.
Lihat juga:MUFG Mulai Isi Kursi Komisaris Bank Danamon |
Saat ini, harga saham terkapar di level Rp50 per saham. Angka itu merupakan batas bawah pergerakan suatu saham dan sudah terjadi dalam satu tahun terakhir. Bila reverse stock benar-benar direalisasikan, maka harga saham Bakrieland Development bakal naik menjadi Rp500 per saham. (aud/lav)