Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.552 per dolar AS atau menguat tipis dari kemarin di Rp14.592 per dolar AS.
Di kawasan Asia, penguatan rupiah menjadi yang paling tinggi dibandingkan mata uang lainnya. Ambil contoh, yen Jepang hanya menguat 0,1 persen dan dolar Hong Kong 0,04 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas rontok dari dolar AS. Hanya rubel Rusia yang menguat 0,07 persen dari mata uang Negeri Paman Sam. Poundsterling Inggris melemah 0,3 persen, euro Eropa minus 0,24 persen, dolar Kanada minus 0,2 persen, dolar Australia minus 0,18 persen, dan franc Swiss minus 0,11 persen.
"Hal ini terlihat dari permintaan obligasi Indonesia yang meningkat, itu berarti arus modal kencang masuk ke sini," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/11).
Dini bilang penguatan rupiah berasal dari kebijakan BI karena di saat yang bersamaan mayoritas mata uang Asia dan negara maju justru rontok dari dolar AS. Menurutnya, proyeksi perlambatan ekonomi global kembali jadi kekhawatiran negara-negara di zona Eropa.
Hal ini juga tercermin dari kondisi ekonomi masing-masing negara Eropa.
"Hal ini membuat euro Eropa melemah, sehingga dimanfaatkan sebagai sentimen penguatan dolar AS," pungkasnya.