Mentan: 100Ribu Ton Jagung Impor Belum Tentu Dilepas ke Pasar

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Jumat, 23/11/2018 18:44 WIB
Mentan: 100Ribu Ton Jagung Impor Belum Tentu Dilepas ke Pasar Pemerintah telah memutuskan mengimpor 100 ribu ton jagung untuk menstabilkan harga. Namun demikian, jagung impor tersebut belum tentu dilepas ke pasar. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah telah memutuskan mengimpor 100 ribu ton jagung untuk menstabilkan harga. Namun demikian, jagung impor tersebut belum tentu dilepas ke pasar.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menerangkan, meski sudah diputuskan impor, namun hingga kini jagung impor belum datang. Sementara, musim panen akan tiba. Artinya, ada kemungkinan jagung impor tersebut tidak digunakan.

"Kemarin kekurangan sekitar 12 ribu ton kan sudah dibantu (PT Charoend Pokphand Indonesia dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk meminjamkan melalui Bulog). Nah, ini juga mau panen, jadi nanti dilihat," ujarnya saat mengunjungi Transmedia, Jumat (23/11).


Sekadar mengingatkan, Charoend Pokphand dan Japfa Comfeed meminjamkan pasokan jagung ke Bulog karena alasan proses impor yang memakan waktu. Jagung itu akan dikembalikan saat jagung impor masuk ke Indonesia.

Yang pasti, ia menyampaikan Bulog tidak akan mengeluarkan jagung impor ke pasar bila harga jatuh terlalu rendah. Hal itu dilakukan untuk menjaga keseimbangan, termasuk memenuhi kebutuhan petani dan peternak kecil.

Meski begitu, ia melanjutkan jumlah impor jagung sebanyak 100 ribu ton itu pun tak besar dibanding dengan impor pada 2015 lalu yang sebanyak 3,5 juta ton. "Jujur, 100 ribu ton itu nanti bisa jadi polemik. Karena kita tidak butuh lagi jagung," kata Amran.


Sebelumnya, Kementerian Perdagangan memastikan telah menerbitkan Surat Persetujuan Impor (SPI) jagung pada 16 November 2018. Direktur Jenderal Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan menuturkan jagung impor bisa mendarat di Indonesia dalam 30-40 hari ke depan.

"Karena ini sudah persetujuan rakortas, maka tidak usah nanti-nanti," imbuh dia di Kemenko Perekonomian pada awal pekan ini.


(bir)