Namun, penguatan harga minyak dunia dibatasi oleh ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global dan munculnya sinyal pasokan yang bertambah, termasuk dari negara produsen Arab Saudi.
Dilansir dari Reuters, Selasa (27/11), harga minyak mentah berjangka Brent menanjak US$1,68 atau 2,9 persen menjadi US$60,48 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,21 atau 2,4 persen menjadi US$51,63 per barel.
Pada perdagangan Jumat (23/11) lalu, harga minyak dunia sempat tertekan pada level terendahnya sejak Oktober 2017. Saat itu, Brent terjerembab ke level US$58,41 per barel dan WTI terjungkal ke level US$50,15 per barel. Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap membanjirnya pasokan di pasar.
Kenaikan harga minyak ditopang oleh reli di pasar saham AS seiring dimulainya Cyber Monday, hari belanja daring terbesar tahun ini.
Namun demikian, kebangkitan harga minyak pada awal pekan ini tertahan oleh kekhawatiran atas jumlah permintaan, sementara produksi dari Arab Saudi berpotensi naik.
Sumber Reuters dari kalangan pelaku industri menyebutkan produksi minyak Arab Saudi menyentuh level 11,1 juta hingga 11,3 juta barel per hari (bph) pada November lalu, tertinggi sepanjang masa.
Investor juga cenderung melepas aset-aset yang terkait erat dengan perekonomian global, seperti saham dan minyak, karena sejumlah faktor. Salah satunya, penguatan dolar AS memangkas permintaan pada negara berkembang utama. Selain itu, kenaikan biaya pinjaman serta ancaman terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dari memanasnya tensi dagang antara AS dan China juga menjadi sentimen negatif bagi investor.
Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC) mencatat manajer keuangan dan investasi dunia mengerek penawaran pada posisi harga minyak naik pada pekan yang berakhir 20 November 2018. Hal itu terjadi untuk pertama kalinya selama delapan pekan terakhir.
Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak September dan mengerek posisi beli bersih dari level terendahnya selama lebih dari setahun.
Lihat juga:Jokowi Akui Kesulitan Dongkrak Harga CPO |
Selanjutnya, pelaku pasar mengantisipasi hasil pertemuan anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Wina, Austria, pada 6 Desember 2018 mendatang. Arab Saudi dan negara anggot OPEC lain diperkirakan bakal sepakat dengan kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1,4 juta bph bersama.
Senin (26/11) kemarin, Goldman Sachs menyatakan pertemuan G20 pekan ini dapat menjadi katalis pemulihan harga komoditas. Pasalnya, pertemuan tersebut dapat mendorong mencairnya tensi perdagangan antara AS-China serta memberikan kejelasan terkait rencana pemangkasan produksi OPEC.
Goldman meyakini OPEC dan negara lain akan menyepakati satu kebijakan yang bakal mendorong pemulihan harga Brent. (sfr/lav)