Kebijakan ini menyusul penurunan harga minyak dunia yang sudah menyentuh level US$60 per barel atau merosot dari posisi US$80 per barel yang tercatat pada pertengahan Oktober silam.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementeiran ESDM Djoko Siswanto mengatakan keputusan itu didapat setelah pemerintah mengadakan pertemuan dengan badan usaha penyalur BBM. Tercatat, ada enam badan usaha yang berkomitmen untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi, yakni PT Pertamina (Persero), PT Aneka Kimia Raya Corporindo Tbk (AKR), Shell, Total, Vivo, dan PT Garuda Mas Energi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menuturkan, beberapa badan usaha sudah mulai menurunkan harga BBM nonsubsidinya di tahun ini. Namun, ada pula badan usaha yang akan menurunkan harga BBM nonsubsidinya pada Januari mendatang.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Pertamina Syahrial Mukhtar mengatakan harga BBM nonsubsidi pasti akan disesuaikan seiring perubahan harga minyak dunia. Hanya saja, dampaknya tak bisa segera. Pasalnya, BBM yang diproduksi Pertamina bukan berasal dari pembelian minyak mentah yang dikontrak hari ini.
"Tidak bisa jika harga minyak turun, maka harga BBM langsung turun. Ada lag time. Tapi harga BBM nonsubsidi tentu tidak usah disuruh pun pasti akan menyesuaikan dengan market," jelasnya. (glh/agi)