TOP TALKS

Basuki Hadimuljono, Anak Tentara yang Jadi 'Daendels' Jokowi

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 06/12/2018 09:30 WIB
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menduduki kursi menteri tak pernah menjadi mimpi Basuki Hadimuljono. Lahir dari keluarga tentara, hampir seluruh kariernya dihabiskan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Lulus dari Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1979, Basuki langsung memilih untuk berkarier sebagai PNS. Ia kemudian meneruskan pendidikan magister dan doctoral di Colorado University pada 1987-1992.

Sepulangnya ke Tanah Air, Basuki kala itu merupakan satu-satunya pegawai Kementerian PU lulusan S3. Kariernya pun perlahan pasti menanjak hingga akhirnya menjadi dirjen pada usia 49 tahun.


Basuki menjabat Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan pada 2005-2007. Kemudian mengenyam jabatan Inspektur Jenderal pada 2007-2013 dan Direktur Jenderal Penataan Ruang pada 2013-2014.

Setelah berkarier lebih dari 30 tahun sebagai PNS, Basuki akhirnya didapuk oleh Presiden Joko Widodo untuk memimpin Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada Oktober 2014. Ia menjadi menteri pertama penggabungan dua kementerian, Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perumahan Rakyat.

"Saya tidak pernah terpikir menjadi menteri. Kalau jadi dirjen, saya sering bercanda dengan teman, karena memang jabatan tertinggi bagi PNS itu ya eselon 1," ujar Basuki kepada CNNIndonesia.com, belum lama ini.

[Gambas:Video CNN]

Menurut Basuki, jabatan menteri tak bisa diupayakan sendiri karena sepenuhnya wewenang Presiden. Misi yang diberikan kepada Basuki pun cukup berat, mengingat pembangunan infrastruktur merupakan salah satu fokus utama pemerintahan Jokowi.

Akibatnya, sejak menjabat sebagai menteri, ia pun mengaku tak lagi punya banyak waktu luang. "Hidup saya mungkin sekarang habis untuk pekerjaan. Rumah, kantor, istana, dan lapangan. Hidup saya hanya itu empat tahun ini," ungkapnya.

Dalam empat tahun terakhir, Basuki mengaku menghabiskan hari kerjanya di kantor, istana, dan proyek. Akhir pekan pun, menurut dia, kadang digunakan untuk meninjau proyek infrastruktur di luar Jakarta.

Kendati demikian, ia mengaku tak lelah berkeliling Indonesia lantaran hal tersebut sudah sering dilakukannya sejak kecil. Hidup di keluarga tentara, ia kerap mengikuti sang ayah yang sering berpindah tugas.

Tak hanya itu, saat menjadi PNS di Kementerian PUPR, ia juga sempat bertugas di Semarang, Kupang, dan kuliah di Amerika Serikat (AS), sebelum menetap di Jakarta.

"Kadang mungkin orang mengira saya kerja banget, ke sana ke mari, lelah. Padahal, saya kan jalan-jalan setiap hari," celetuknya diikuti tawa.


Loyalitas Basuki pun terbukti dari rampungnya banyak proyek infrastruktur. Pembangunan jalan tol Trans Jawa dan Trans Sumatera, serta jalan Trans Papua yang terbengkalai di era pemerintahan sebelumnya, menunjukkan progres yang signifikan.

Jalan tol Trans Jawa bahkan kini hampir rampung dan ditargetkan tersambung seluruhnya di tahun ini. Saat peresmian Jalan Tol Gempol-Pasuruan pertengahan tahun ini, Jokowi bahkan membanggakan pekerjaan Basuki dan memberikannya julukan Daendels baru.

Daendels merupakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang memimpin pembangunan jalan mulai dari Anyer, Banten hingga Panarukan, Jawa Timur. Julukan Daendles diberikan Jokowi kepada Basuki lantaran ia berhasil mengebut pembangunan jalan tol dari Merak-Banyuwangi atau Tol Trans Jawa.

Bersambung ke halaman berikutnya... (agi)
1 dari 2