Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama ringgit Malaysia minus 0,08 persen, peso Filipina minus 0,07 persen, dan yen Jepang minus 0,02 persen. Di sisi lain, won Korea Selatan menguat 0,38 persen, baht Thailand 0,06 persen, dolar Singapura 0,05 persen, dolar Hong Kong 0,04 persen.
Mayoritas mata uang utama negara maju kompak bersandar di zona hijau. Terbukti, dolar Australia menguat 0,13 persen, franc Swiss 0,07 persen, dolar Kanada 0,06 persen, poundsterling Inggris 0,03 persen, dan euro Eropa 0,03 persen. Hanya rubel Rusia yang stagnan di hadapan dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan rupiah masih cenderung melemah pada hari ini, karena belum ada sentimen baru yang berpotensi menopang penguatan bagi mata uang Garuda.
"Rupiah masih cenderung bertahan dari potensi pelemahan lebih lanjut," ujarnya, Jumat (21/12).
Sedangkan sentimen lain, seperti proyeksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK), masing-masing sebesar 12-13 persen dan 11 persen justru tidak mampu menopang rupiah. (uli/lav)