Dalam rapat tersebut diketahui pasokan beras di gudang Bulog masih cukup tinggi, meski sudah mendekati akhir tahun. "Stok Bulog sangat banyak, tidak ada masalah, mungkin sudah dekati 3 juta ton. Jadi kalau cuma operasi 6 ribu, 10 ribu, 15 ribu ton per hari itu bisa, tidak masalah," ujar Darmin di kantornya, Kamis (27/12).
Menurutnya, bila volume operasi pasar Bulog bisa meningkat hingga kisaran itu, maka masalah kenaikan harga beras seharusnya bisa diatasi. Bersamaan dengan itu, permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar harga beras kembali rendah juga terwujud.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain meningkatkan volume operasi pasar, Darmin mengatakan pemerintah turut melihat aspek lain yang mempengaruhi kenaikan harga beras. Misalnya, preverensi minat masyarakat hingga margin keuntungan yang diambil pedagang.
Sayangnya, belum ada data valid yang membuktikan hal ini karena pencatatan kenaikan harga beras di Badan Pusat Statistik (BPS) tidak merinci. BPS hanya menyampaikan perkembangan harga beras berdasarkan golongan kualitas beras, seperti kualitas rendah, medium, dan premium.
"Naiknya hanya nol koma, itu tidak mudah dijelaskan. Persisnya yang mana, kami juga tidak tahu, apakah yang Maknyus (merek beras) Maknyus, yang mana, tidak mengerti saya," imbuhnya.
Kendati begitu, Darmin membantah bila kualitas beras Bulog lebih minim ketimbang merek lain. Justru, katanya, jenis beras medium yang dijual Bulog merupakan beras premium karena hasil impor.
"Tapi memang kalau operasi pasar, Bulog utamakan pengadaan beras dalam negeri. Kenapa? Karena biasanya lebih tahan lama beras impor karena kualitasnya lebih bagus," terangnya.
Sementara terkait margin keuntungan yang diambil pedagang, Darmin bilang memang kalangan pengusaha cenderung meningkatkan harga jual berasnya akhir-akhir ini. Hal tersebut membuat beras Bulog tidak banyak dijual di pasaran karena margin yang bisa diambil pedagang minim.
"Jangan dikira mereka mau untung kecil, Rp300 per kg itu tidak mau dia, tidak dijual itu beras Bulog. Dia mau untungnya itu minimal Rp500-1.000 per kg," pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta Bulog meningkatkan volume operasi pasar guna menekan harga beras yang kembali melambung dalam beberapa waktu terakhir. Meski, kenaikan harga beras masih terbilang minim sekitar 0,45 persen untuk beras medium dan 0,04 persen untuk beras premium.
Sementara berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga beras medium di tingkat nasuional sebesar Rp11.900 per kg. Harga tersebut meningkat tipis dari bulan sebelumnya di kisaran Rp11.850 per kg. Sedangkan harga beras premium sekitar Rp12.800-13.600 per kg. (uli/agt)