Dilansir dari Reuters, Jumat (4/1), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$1,04 atau 1,89 persen menjadi US$55,95 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, Brent bergerak di rentang US$53,93 hingga US$56,3 per barel.
Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,55 atau 1,18 persen menjadi US$47,09 per barel. Sepanjang sesi perdagangan, WTI sempat tertekan ke level US$45,35 per barel dan terdongkrak hingga menyentuh US$47,49 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berkurangnya pasokan terjadi seiring langkah Arab Saudi yang mulai membatasi pasokan. Apalagi saat yang sama, pasokan dari Iran dan Libya juga menurun.
"Arab Saudi tengah mempelopori pemangkasan produksi signifikan yang resmi berlaku pekan ini. Sejauh ini, ketaatan untuk menyesuaikan kuota nampaknya tinggi kemungkinannya," ujar Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.
Kendati demikian, pasar minyak masih mendapatkan tekanan dari kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dapat mengurangi permintaan.
Raksasa produsen gawai Apple memangkas proyeksi penjualannya menyusul perlambatan ekonomi China. Pemberitaan mengenai hal tersebut mengguncang pasar modal AS dan membebani harga minyak, yang beberapa kali bergerak paralel dengan indeks Wall Street.
Data industri AS yang lebih lemah dari perkiraan juga menambah kekhawatiran terhadap perekonomian.
"Ini merupakan pertarungan antara kondisi pasokan, yang kelihatannya mengetat, melawan kemungkinan permintaan yang bakal menurun," ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.
Berdasarkan survey Federal Reserves Bank of Dallas yang dirilis Kamis, proyeksi para eksekutif dari perusahaan migas negatif untuk pertama kalinya sejak anjloknya harga minyak.
Lihat juga:Harga Minyak Sepanjang 2018 Anjlok |
Para investor tengah khawatir terhadap kenaikan pasokan dari produsen utama minyak dunia, termasuk AS dan Rusia. Di AS, Institut Perminyakan Amerika merilis data stok minyak mentah merosot pekan lalu. Sementara, stok bensin dan minyak distilasi menanjak.
Persediaan minyak mentah merosot sebesar 4,5 juta barel menjadi 443,7 juta barel pada pekan yang berakhir pada 28 Desember 2018. Sebagai pembanding, survei analis Reuters memperkirakan penurunan sebesar 3,1 juta barel.
Sementara, persediaan bensin AS naik 8 juta barel, lebih tinggi dari proyeksi analis yang kenaikannya hanya sebanyak 2 juta barel. Kemudian, stok minyak distilasi naik 4 juta barel melampaui perkiraan yang hanya 1,6 juta barel.
Selain itu, survei Reuters pada Kamis lalu juga memperkirakan Arab Saudi bakal memangkas harga untuk minyak mentah berat yang dijual ke Asiaakibatlemahnya margin bahan bakar. Di saat bersamaan, Arab Saudi juga akan mengurangi harga minyak mentah ringan untuk menjaga daya saing dengan pasokanminyakshale dari AS. (sfr/agt)