Di kawasan Asia, rupiah tetap perkasa memimpin penguatan mata uang. Diikuti won Korea Selatan yang menguat 0,52 persen, ringgit Malaysia 0,3 persen, peso Filipina 0,19 persen, yen Jepang 0,03 persen, dolar Singapura 0,02 persen, dolar Hong Kong 0,02 persen, dan baht Thailand 0,01 persen.
Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas bersandar di zona hijau. Dolar Australia menguat 0,02 persen, poundsterling Inggris 0,11 persen, euro Eropa 0,13 persen, dan franc Swiss 0,24 persen. Namun, rubel Rusia dan dolar Kanada melemah, masing-masing 0,38 persen dan 0,01 persen dari dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp14.332-14.365 per dolar AS dengan kecenderungan menguat. Hal ini lantaran sentimen dari dalam negeri cukup positif, seperti fundamental ekonomi dan pernyataan Bank Indonesia (BI).
"Kondisi di dalam negeri cukup kondusif, terutama setelah BI kembali menegaskan akan tetap mengarahkan kebijakan moneter untuk lebih prostabilitas demi menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah," ujarnya dalam riset, Senin (7/1).
Sebelumnya, Trump memang sempat melontarkan pernyataan ingin memecat Powell karena kebijakan yang diambilnya tidak sejalan dengan semangat mendorong pertumbuhan ekonomi AS ala Trump.
"Rupiah masih ada kesempatan untuk bergerak positif, apaagi jika kondisi global cukup mendukung dengan pelemahan dolar AS seiring merespons pernyataan The Fed tersebut," katanya. (uli/lav)