Sebelumnya, Pertamina melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) mendapat mandat untuk mengelola Blok Mahakam per 1 Januari 2018 pasca ditinggal Total E&P Indonesie.
"Tetapi, realisasi produksi Mahakam oleh Pertamina masih lebih tinggi dari prediksi penurunan produksi yang dibuat Total tahun lalu," ujar Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Senin (7/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara terpisah, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengungkapkan mengungkapkan Blok Mahakam telah berada pada fase penurunan alami. Akibatnya, produksinya menurun dari tahun ke tahun.
Selain itu, tidak tercapainya target juga tak lepas dari masa transisi alih kelola Blok Mahakam dari Total ke PHM juga baru terealisasi pada 2017 sehingga dampaknya pada produksi belum optimal. Investasi juga belum banyak dilakukan pada 2018.
Melihat pengalaman transisi Blok Mahakam, Dwi berharap transisi alih kelola Blok Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) ke Pertamina bisa berjalan lebih baik sehingga tidak berdampak pada produksi. Sebagai catatan, Pertamina akan mengambil alih kelola Blok Rokan pada 2021, saat kontrak CPI pada blok tersebut habis.
Secara keseluruhan, rata-rata lifting migas sepanjang 2018 mencapai 1,917 juta barel setara minyak per hari (barrels oil equivalent per day/boepd) atau setara dengan 96 persen dari target APBN 2018 yang dipatok 2.000 mboepd. Khusus untuk lifting gas bumi, realisasinya tercatat 1,139 juta boepd atau 94,92 persen dari target 1,2 juta boepd. Sementara 778 ribu bpd sisanya merupakan realisasi lifting minyak bumi (sfr/agi)