Di kawasan Asia, rupiah menguat bersama peso Filipina 0,15 persen, ringgit Malaysia 0,09 persen, dan won Korea Selatan 0,02 persen.
Sementara, mata uang Asia lainnya justru bersandar di zona merah. Dolar Singapura melemah 0,01 persen, yen Jepang minus 0,01 persen, dolar Hong Kong minus 0,03 persen, dan baht Thailand 0,11 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:IHSG Rawan Terkoreksi Akibat Faktor Teknikal |
Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas melemah dari mata uang Negeri Paman Sam. Franc Swiss melemah 0,03 persen, euro Eropa minus 0,09 persen, rubel Rusia minus 0,16 persen, dan dolar Australia minus 0,16 persen.
Hanya dolar Kanada dan poundsterling Inggris yang bersandar di zona hijau dengan penguatan masing-masing 0,05 persen dan 0,01 persen dari dolar AS.
Dari global, sentimen pernyataan bank sentral AS, The Federal Reserve yang tidak begitu agresif dalam menaikkan tingkat bunga acuan (dovish) masih akan berpengaruh pada pergerakan rupiah.
Lalu, dari regional, ada penguatan mata uang China yang ikut menggerakkan rupiah. Kemudian, dari domestik, ada topangan yang cukup kuat dari fundamental ekonomi Indonesia, khususnya inflasi rendah di 3,13 persen.
"Ada pula penantian pelaku pasar terhadap risalah rapat FOMC Meeting (rapat The Fed) pada Rabu mendatang," ucapnya kepada CNNIndonesia.com. (uli/bir)