Dilansir dari Reuters, Rabu (9/1), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$1,39 atau 2,4 persen menjadi US$58,72 per barel.
Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,26 atau 2,6 persen menjadi US$49,78 pe barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, harga WTI sempat menyentuh level US$49,95 per barel, tertinggi sejak 17 Desember 2018.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggota delegasi AS Steven Winberg menyatakan sejauh ini pembicaraan perdagangan antara AS dan China berjalan baik dan akan dilanjutkan besok, Rabu (9/1).
Sebagai catatan, perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia ini telah menahan pasar keuangan global.
Pada Senin (7/9) lalu, Menteri Perdagangan AS Wilbur Ros dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengaku optimistis bisa mengakhiri sengketa dagang antara kedua negara.
Kendati demikian, sejumlah analis memperingatkan tensi perdagangan bisa muncul kembali. Pelaku pasar minyak juga khawatir terhadap potensi perlambatan laju pertumbuhan ekonomi dunia yang dapat menahan permintaan bahan bakar.
Manajer investasi dan keuangan telah memangkas posisi harga bakal naik (bullish) pada perdagangan minyak mentah berjangka.
Lembaga Pemeringkat Internasional S&P Global Rating menyatakan telah menurunkan proyeksi rata-rata harga minyak untuk 2019 sebesar US$10 per barel sehingga rata-rata harga Brent menjadi US$55 dan WTI US$50 per barel.
"Asumsi harga minyak yang lebih rendah mencerminkan perlambatan permintaan dan kenaikan pasokan global," ujar Analis S&P Global Rating Danny Huang.
Sementara itu, harga minyak telah mendapatkan topangan dari kesepakatan pemangkasan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia.
Perusahaan investasi dari Arab Saudi Petroleum Investments Corp yang kerap mendanai proyek perminyakan memperkirakan harga minyak diperkirakan akan bergerak ke kisaran US$60 hingga US$70 per barel pada pertengahan 2019.
Di sisi lain, pasokan minyak AS terus menanjak. Peningkatan tajak pada pengeboran minyak shale di darat telah menjadikan AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia. Tahun lalu, produksi minyak AS naik 2 juta barel per hari (bph) ke level rekor dunia 11,7 juta bph.
Tak ayal, pasar sangat memperhatikan pasokan AS yang sejumlah analis memperkirakan bakal turun 3,3 juta barel pada pekan terakhir.
Menurut Partner Again Capital Management John Kidulff jika data pemerintah AS mengonfirmasi proyeksi tersebut pasar akan mendapatkan sinyak kenaikan harga yang kuat. Sebagai catatan, pemerintah AS baru akan merilis data pasokan minyak mentah pada Rabu (9/1), waktu setempat. (sfr/lav)