Luhut menjelaskan tenaga kerja di kawasan industri tersebut saat ini sudah mencapai sekitar 30 ribu orang. Jumlah tenaga kerja tersebut, menurut Luhut berpeluang meningkat hingga di atas 100 ribu orang.
Sementara itu, jumlah TKA China saat ini mencapai sekitar 3.000 orang atau 10 persen dari total tenaga kerja di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luhut menyebut bakal ada alih teknologi dalam bidang metalurgi untuk pengembangan SDM di kawasan tersebut. Hal ini lantaran menurut dia, Presiden Direktur PT GEM Xu Kai Hua yang juga merupakan ahli di bidang metalurgi telah menjanjikan kepadanya akan mendidik penduduk Morowali.
Ia menjelaskan kawasan industri tersebut bakal menjadi lompatan besar bagi pengembangan industri lithium baterai di tanah air. Di kawasan tersebut akan dibangun pabrik pertama yang membangun komponen lithium bateral dari bahan dasar nikel di Indonesia yang menerapkan teknologi berbasis digital dengan mengadopsi industri 4.0 dan teknologi 5G.
"Indonesia saat ini sedang mengembangkan industri berbasis teknologi. Istilahnya kita sedang melakukan lompatan katak untuk pengembangan industri lithium baterai," terang Luhut.
Industri tersebut menurut dia, nantinya juga akan berperan meningkatkan ekspor dan menekan impor. Adapun nilai investasi pabrik tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$700 juta dan bakal berkontribusi pada tambahan ekspor nantinya berkisar US$800 juta.
"Ini penting, supaya kita mandiri. Berpuluh tahun kita hanya ekspor bahan mentah. Dulu kita ekspor nikel mentah nilainya US$200-240 juta sekarang turunan pertamanya saja, tahun lalu kita ekspor menjadi US$4 miliar," jelasnya. (agi)