Di kawasan Asia, beberapa mata uang bersandar di zona hijau, seperti baht Thailand menguat 0,03 persen, dolar Singapura 0,1 persen, dan yen Jepang 0,22 persen.
Namun, beberapa diantaranya terperosok ke zona merah, seperti peso Filipina melemah 0,26 persen, won Korea Selatan minus 0,25 persen, dan ringgit Malaysia minus 0,11 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Laju IHSG Terancam Aksi Ambil Untung |
Begitu pula dengan mata uang utama negara maju yang bergerak variasi. Franc Swiss dan rubel Rusia menguat 0,03 persen dan 0,06 persen dari dolar AS.
Sementara dolar Australia melemah 0,07 persen, poundsterling Inggris minus 0,04 persen, dolar Kanada minus 0,01 persen, dan euro Eropa minus 0,01 persen.
"Rupiah masih berada di lower bollinger band, sehungga masih mungkin kembali mengalami penguatan, meski ada koreksi sebelumnya," ujarnya, Rabu (16/1).
Di sisi lain, sentimen negatif dari buruknya data defisit neraca perdagangan Indonesia 2018 sebesar US$8,57 miliar dirasa tak akan berlangsung lama. Sebab, indikator perekonomian lain masih cukup menopang pertumbuhan. (uli/agi)