Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan aliran modal asing mulai masuk pada akhir tahun lalu dan bakal berlanjut di tahun ini. Sepanjang kuartal IV 2018, aliran modal asing yang masuk mencapai US$12,5 miliar. Ini membuat nilai tukar rupiah sejak awal tahun hingga 15 Januari 2019 menguat 2,04 persen.
Sementara itu, depresasi rupiah sepanjang tahun lalu tercatat sebesar 5,85 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perry juga memperkirakan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) tahun ini bakal membaik yaitu sekitar 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Perbaikan posisi CAD bakal ditopang impor yang kemungkinan menurun seiring kebijakan pemerintah.
"Kami berkoordinasi dengan pemerintah untuk kendalikan CAD dalam batas aman tidak lebih 3 persen dari PDB," kata Perry.
Faktor lainnya yang akan mendorong stabilitas rupiah, lanjut Perry adalah posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia yang terus menguat. Meskipun sempat turun pada beberapa bulan sebelumnya, namun pada akhir Desember 2018 posisi cadev tercatat sebesar S$120,7 miliar atau meningkat US$3,5 miliar dibandingkan posisi akhir November US$117,2 miliar.
Perry bilang jumlah cadev lebih dari cukup untuk pembiayaan impor, pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta stabilitas nilai tukar.
"Pasar valuta asing dalam negeri juga semakin berkembang tidak hanya spot tetapi juga transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) yang semakin mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," imbuhnya.
Secara keseluruhan, bank sentral melihat ekonomi Indonesia tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu. BI memperkirakan ekonomi bisa tumbuh di rentang 5-5,4 persen dengan titik tengah di posisi 5,2 persen.
Target pertumbuhan ekonomi oleh BI lebih rendah dari target pertumbuhan ekonomi yang dipasang pemerintah sebesar 5,3 persen. BI juga memperkirakan inflasi tetap terkendali sesuai sasaran yaitu 3,5 plus minus 1 persen di 2019. (ulf/agi)