Aktivitas Kilang Minyak AS Meningkat, Harga Minyak Merosot

CNN Indonesia | Selasa, 29/01/2019 07:49 WIB
Aktivitas Kilang Minyak AS Meningkat, Harga Minyak Merosot Ilustrasi. (REUTERS/Stringer).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah merosot sekitar 3 persen pada perdagangan Senin (28/1), waktu Amerika Serikat (AS), dipicu kenaikan aktivitas pengeboran minyak mentah AS yang menjadi sinyal pertumbuhan produksi mendatang di tengah pertumbuhan ekonomi global yang melambat.

Dilansir dari Reuters, Selasa(29/1), harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$1,71 atau 2,8 persen menjadj US$59,93 per barel secara harian.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,7 atau 3,2 persen menjadi US$51,99 per barel.


Penurunan kedua harga minyak acuan global tersebut merupakan yang terbesar selama sebulan terakhir. Penurunan harga harian yang lebih besar terakhir terjadi pada 27 Desember 2018 lalu.


"Kami sedang melihat harga minyak mulai benar-benar ambruk di sini," ujar Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures Phillip Streible di Chicago.

Menurut Streible, salah satu faktor yang menekan harga minyak adalah kenaikan jumlah rig yang telah dilaporkan pada Jumat (25/1) lalu.

Berdasarkan data perusahaan layanan di sektor energi Baker Hughes, pengebor minyak AS menambah 10 rig minyak pekan lalu. Hal ini menjadi sinyal kenaikan produksi minyak AS ke depan yang mendapatkan sentimen negatif di pasar.

Perang dagang antara AS dan China juga turut menekan harga komoditas berjangka. Hal itu terjadi seiring memudarnya optimisme investor terhadap berakhirnya perang tarif antara dua negara dengan perekonomian terbesar dunia itu dalam waktu dekat. Perang dagang tersebut telah menghambat laju pertumbuhan ekonomi China.


Selain itu, Direktur Riset Pasar Tradition Energi Gene McGillian juga menilai ketidakpastian terkait berapa lama pemerintah AS akan tetap beroperasi dalam periode penghentian kinerja (shutdown) turut menekan optimisme investor.

"Saya rasa kedua faktor di atas telah memantik ketakutan terhadap perlambatan pertumbuhan permintaan yang telah menjadi faktor penekan harga utama di pasar selama beberapa waktu terakhir," ujar McGillian di Stanford.

Sementara itu, harga minyak berjangka tetap akan mencatatkan kenaikan bulanan terbesar selama dua tahun terakhir menyusul pelaksanaan kebijakan pemangkasan produksi oleh angota negara Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), termasuk Rusia pada bulan ini.

Sejauh ini, harga Brent telah menguat hampir 12 persen pada Januari 2019, yang merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak Desember 2016. Kemudian, harga WTI juga telah terkerek lebih dari 13 persen bulan ini. Lonjakan tersebut merupakan yang tertinggi sejak April 2016 saat harga WTI lompat hampir 20 persen secara bulanan.


InterContinental Exchange mencatat, bulan ini investor telah menambah taruhan di posisi harga minyak akan naik secara berkelanjutan untuk pertama kalinya sejak September 2018.

Sebagian besar proyeksi permintaan masih bergantung pada China, terutama terkait laju impor minyak oleh pengelola kilang China yang akan melambat seperti yang terjadi pada tahun lalu.

Pendapatan perusahaan di sektor industri China tercatat merosot untuk kedua kalinya secara bulanan pada Desember 2018. Hal itu terjadi meski pemerintah China telah berupaya untuk mendorong pinjaman dan investasi. (sfr/lav)