Meski demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan tren defisit transaksi berjalan mulai menunjukkan penurunan. Jika pada kuartal III kemarin defisit transaksi berjalan mencapai US$8,8 miliar, maka pada kuartal IV nilainya menurun jadi US$8 miliar.
"Jadi memang suasana di kuartal IV sudah mulai berbalik arah untuk defisit transaksi berjalan," ujarnya, Rabu (30/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja, ia tak menyebut komponen apa saja yang meringankan beban defisit transaksi berjalan pada kuartal kemarin. Sebab, diketahui neraca perdagangan sepanjang kuartal IV mencatat defisit US$4,46 miliar atau membengkak dibanding kuartal III yang sebesar US$2,64 miliar. Sehingga, ada kemungkinan perbaikan di komponen neraca pendapatan primer.
Mengambil asumsi Produk Domestik Bruto (PDB) tahun lalu yang mencapai US$1,06 triliun berdasarkan asumsi petumbuhan ekonomi pemerintah, yakni 5,17 persen, perhitungan CNNIndonesia.com menunjukkan bahwa defisit transaksi berjalan di akhir tahun 2018 diperkirakan mencapai 2,85 persen dari PDB.
"Defisit transaksi berjalan di Indonesia memang seharusnya tidak melebihi 3 persen dari PDB. Wajar jika negara Indonesia ini ada defisit transaksi berjalan, tapi jangan gede-gede. Pastikan itu produktif," imbuh dia.
Jika defisit transaksi berjalan masih defisit, Perry malah meramal neraca modal dan finansial akan mencatat surplus hingga US$12 miliar sepanjang kuartal IV. Hasilnya, neraca pembayaran di kuartal IV akan surplus di kisaran US$4 miliar - US$5 miliar.
"Ini karena ada inflow (aliran modal masuk) sebanyak US$12 miliar pada kuartal IV lalu. Ini juga menjadi salah satu faktor mengapa pada kuartal IV rupiah menguat begitu agresif," pungkasnya. (glh/bir)