Rini mengatakan keikutsertaan Inalum untuk ikut serta membiayai pembangunan smelter tersebut sudah dihitung sejak awal sebelum pembelian saham Freeport dilakukan. "Memang sudah terkalkulasi sejak awal kita akan membeli saham Freeport. Di situ ada dua investasi besar, satu untuk smelter dan kedua untuk pertambangan bawah tanah," kata Rini di Jakarta, Rabu (30/1).
Rini mengatakan karena investasi besar itulah, untuk tiga tahun setelah proses divestasi saham PT Freeport dilakukan, kemungkinan pihak Indonesia belum akan mendapatkan apa-apa. Pada kurun waktu tersebut, dividen yang akan diterima Indonesia akan anjlok tajam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rini yakin penurunan penerimaan tak akan berlangsung lama. Setelah tiga tahun, penerimaan akan naik. Tapi sayang, Rini tak menjelaskan berapa besaran biaya investasi yang digelontorkan Inalum untuk baik pembangunan smelter maupun tambang bawah tanah Freeport.
Artinya, kalau sekarang Inalum menguasai 51 persen saham Freeport, mereka akan terkena beban investasi pembangunan yang lebih besar. Padahal, total biaya pembangunan smelter mencapai US$2 miliar atau setara Rp28,759 triliun (Kurs Rp14.379 per dolar AS).