FOTO: Hasil Panen Bawang Petani di Pulau Sabu

ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari, CNN Indonesia | Minggu, 10/02/2019 02:22 WIB

Nusa Tenggara Timur, CNN Indonesia -- Saat musim panen bawang di Pulau Sabu, pulau terluar di bagian selatan Indonesia di antara Pulau Sumba dan Pulau Rote bisa mencapai tiga ton.

Matahari bersinar melimpah ruah di Pulau Sabu, pulau terpencil di Nusa Tenggara Timur. Sepanjang mata memandang tidak ada hamparan pohon hijau, melainkan hanya ada tanah yang gersang dan pohon lontar. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Pulau Sabu adalah pulau terluar di bagian selatan Indonesia yang terletak di antara Pulau Sumba dan Pulau Rote. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Di pulau yang dikenal juga dengan sebutan Sawu, intensitas hujan sangat rendah. Apalagi saat itu sedang musim kemarau. Aroma tandus sangat terasa. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Dahulu harga BBM di pulau ini sangat mahal, bisa mencapai kisaran Rp100 ribu per liter. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Selain mahal, warga pun dijatah membali BBM hanya 1,5 liter atau seukuran botol air mineral. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Paulina Rihi Raja menunjukkan bahan bakar minyak yang dibelinya di Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur. Paulina yang berprofesi sebagai penjual makanan harus menempuh jarak 10 kilometer berjalan kaki untuk mendapatkan BBM. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Harga BBM yang tadinya Rp100 ribu kini turun drastis menjadi Rp6.450 (premium) dan Rp5.150 (solar). Kini, para petani di Sabu pun, bisa menanam bawang hingga berhektar-hektar di atas lahan mereka. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Hasil bawang di Pulau Sabu bisa mencapai hingga 3 ton saat panen tiba. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Pulau Sabu mungkin masih kalah populer dibandingkan pulau lain di NTT, seperti Taman Nasional Komodo atau Pulau Sumba. Namun kearifan lokal dan perjuangan dapat membuat warganya bertahan hidup. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)


ARTIKEL TERKAIT