Pelemahan yang terjadi pada rupiah tersebut cukup ironis. Pasalnya, pelemahan terjadi saat mayoritas mata uang Asia tengah menguat melawan dolar AS. Baht Thailand misalnya, berhasil menguat 0,36 persen, ringgit Malaysia menguat 0,12 persen dan won Korea Selatan menguat 0,07 persen.
Di sisi lain, dolar Singapura dan dolar Hong Kong masing-masing menguat 0,01 persen. Di kawasan Asia, hanya yen Jepang saja yang melemah 0,09 persen terhadap dolar AS. Ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan performa terburuk pada pagi ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan rupiah saat ini memang mendapatkan tekanan hebat dari penguatan dolar AS. Tekanan juga datang dari isu perlambatan ekonomi Eropa, yang dipicu prediksi pertumbuhan ekonomi Inggris 2019 yang turun dari 1,7 persen ke 1,2 persen.
Selain itu, data pertumbuhan manufaktur Jerman yang dianggap tak memuaskan juga ikut menjungkalkan rupiah. Meskipun demikian, ia memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat hari ini karena pelaku pasar mengantisipasi pertemuan bilateral antara Amerika Serikat dan China dalam mencari jalan keluar perang dagang.
Ariston mengatakan kemajuan pembicaraan perang dagang akan membuat investor beralih ke instrumen berisiko.