Pengusaha Sebut Jagung Langka karena Kendala Distribusi

CNN Indonesia | Senin, 11/02/2019 20:18 WIB
Pengusaha Sebut Jagung Langka karena Kendala Distribusi Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaku usaha menyebut kelangkaan jagung di dalam negeri disebabkan lokasi panen jagung berjauhan dengan lokasi kebutuhan, ditambah lagi dengan kendala distribusi. Walhasil, jagung yang dihasilkan petani tidak sampai kepada sentra produksi dengan cepat.

"Panennya tidak pas dengan lokasi yang dibutuhkan. Misal, panen di Medan, sudah panen sejak bulan lalu, sedangkan yang dibutuhkan di Jawa. Jadi memang masalah jarak dan waktu," kata Direktur Utama PT Bisi International Tbk Tan Jemmy Eka Putra di Hotel Mulia, Senin (11/2).

Bisi International merupakan perusahaan produsen benih hibrida untuk jagung, padi dan hortikultura lain.


Jemmy memperkirakan produksi jagung tahun lalu surplus. Hanya saja, masalah lokasi menyebabkan kendala distribusi antara sentra penghasil jagung dan produksi, sehingga terjadi kelangkaan jagung pada sentra produksi.


Pemerintah berhasil mengekspor jagung sebanyak 380 ribu ton tahun lalu. Di sisi lain, total impor jagung tercatat sebesar 280 ribu ton. Rinciannya, 100 ribu ton pada November 2018. Kemudian, pemerintah menambah impor jagung sebanyak 30 ribu ton pada awal tahun ini. Selanjutnya, pemerintah kembali membuka keran impor jagung sebanyak 150 ribu ton pada akhir Januari 2019.

"Jadi secara total (produksi jagung) surplus. Hanya saja produksi pertanian sifatnya tidak seperti di pabrik. Produksi pertanian terpengaruh misalnya hujan datang terlambat atau cepat. Itu yang saya pikir menyebabkan ada missmatch antara kapan produksinya muncul dan kapan penyerapannya," jelasnya.

Menurut dia, pengaturan impor pemerintah berhasil membangun semangat petani jagung Indonesia. Sebab, izin impor hanya dikeluarkan ketika ada kebutuhan sehingga harga membuat harga stabil sekaligus menjaga pendapatan petani.

Tahun ini, Jemmy memprediksi harga jagung bisa lebih terkendali. Alasannya, pemerintah telah menugaskan Perum Bulog untuk menyerap seluruh hasil produksi jagung petani.


"Kalau Perum Bulog bisa menyerap, tidak usah banyak-banyak mungkin 1 juta hektar, barangkali bisa dijadikan stock (ketersediaan) cadangan pada saat antara musim panen dan kebutuhan tidak mencukupi. Jadi di sana lah Perum Bulog bisa membantu," imbuhnya.

Kinerja Perseroan

Tahun ini, perseroan menargetkan produksi 54 ribu ton benih. Jumlah tersebut setara dengan 3 juta hektar lahan.

"Tahun lalu, produksi sekitar 36-37 ribu ton untuk 2 juta hektar lahan. Jadi peningkatan produksi rata-rata 15 persen per tahun," paparnya.

Untuk itu, perseroan telah menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar lebih dari Rp30 miliar. Sementara itu, perusahaan juga masih memiliki sisa belanja modal tahun-tahun sebelumnya, jika diakumulasikan jumlahnya mencapai Rp100 miliar.


"Kami akan realisasikan sekitar Rp30 miliar," ujarnya.

Selain pengembangan produksi, belanja modal tersebut juga akan dialokasikan perseroan untuk pembelian mesin pengemasan baru, perawatan mesin, dan peremajaan mobil angkutan.

Khusus untuk kebutuhan pengembangan teknologi, Bisi International menganggarkan dana sebesar Rp3 miliar-Rp4 miliar. Tahun ini, perseroan menargetkan bisa mengekspor 1.000 ton benih. Namun demikian, ia enggan merinci target pendapatan dan laba tahun ini.

"Kami optimis, satu karena varietas. Kami rilis beberapa varietas baru dan (varietas baru) tersebut diterima oleh petani. Kedua, kondisi eksternal cukup bagus. Harga jagung bagus, musim tahun ini semoga juga normal," tukas Jimmy. (ulf/lav)