Harga Minyak Terdongkrak Rencana Pemangkasan Produksi Arab

CNN Indonesia | Kamis, 14/02/2019 07:14 WIB
Harga Minyak Terdongkrak Rencana Pemangkasan Produksi Arab Ilustrasi. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menanjak 2 persen pada perdagangan Rabu (13/2), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan terjadi setelah Arab Saudi mengumumkan bakal memangkas ekspor minyak mentah dan mengurangi produksinya lebih dalam.

Kendati demikian, Kenaikan harga minyak tersebut dibatasi oleh meningkatnya persediaan minyak mentah AS. Dilansir dari Reuters, Kamis (14/2), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$1,23 menjadi US$63,65 per barel.

Di awal sesi perdagangan, harga acuan global ini sempat menyentuh level US$63,98 per barel setelah itu melandai setelah AS merilis data stok minyaknya. 
Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,07 menjadi US$54,17 per barel.


Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah AS pada pekan lalu merupakan yang tertinggi sejak November 2017. Hal itu terjadi seiring langkah operator kilang yang memangkas minyak yang dikelola ke level terendah sejak Oktober 2017.


Kenaikan stok tersebut juga terjadi meski net importir merosot ke level terendah seiring produksi minyak mentah domestik yang berada di puncak untuk 5 pekan berturut-turut."Laporan ini bersifat menekan harga," ujar Analis Perminyakan Price Futures Group Phil Flynn.

Menurut Flynn, pasar minyak masih bertahan karena perkembangan pasar di luar pasar minyak, harapan kesepakatan perdagangan AS-China, dan kuatnya indeks saham rata-rata industri Dow Jones.Kendati demikian, Vice President INTL FCStone Tom Saal menilai laporan yang bersifat menekan harga tersebut berdampak kecil dalam mengguncang pasar.

Menurutnya pasar masih diliputi sentimen pendongkrak harga yang kuat. 
"Pemberitaan terkait Arab Saudi cukup signifikan sehingga pasar bereaksi lebih terhadap hal itu dibanding hal lain untuk saat ini," ujarnya.

Pada Selasa (12/2) lalu, Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan kepada Financial Times bahwa produksi minyak kerajaan akan turun ke bawah 10 juta barel per hari (bph) pada Maret mendatang. Penurunan tersebut lebih besar 500 ribu bph dari target kesepakatan pemangkasan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya.

[Gambas:Video CNN]

Kesepakatan pemangkasan tersebut dilakukan untuk mengurangi kelebihan pasokan minyak mentah global. Pekan ini, OPEC juga menyatakan telah memangkas produksi hampir 800 ribu bph pada Januari menjadi 30,81 juta bph.

Arab Saudi memegang andil paling besar dalam pengurangan produksi tersebut. Selain itu, Goldman Sachs memperkirakan pembatasan AS terhadap sektor energi Venezuela diperkirakan bakal mengurangi pasokan sebesar 300 ribu bph pada tahun ini.

Sebagai catatan, harga minyak telah menanjak sekitar 20 persen sejak awal tahun. Namun kenaikan terbesar terjadi di awal Januari, sebelum pengenaan sanksi AS terhadap sektor energi Venezuela.

Sementara itu, Analis dari PVM Oil Stephen Brennock mengingatkan meski harga minyak mendapatkan dorongan, risiko tekanan masih membayangi. Pasalnya, perekonomian dunia kehilangan momentum di tengah pusaran risiko termasuk tensi perdagangan AS-China dan ketidakpastian geopolitik.


Kemudian, Rabu (13/2) kemarin, Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan pasar minyak global tetap mendapatkan pasokan yang cukup. Dengan demikian, produksi masih akan melampaui permintaan tahun ini.

"Harga minyak belum naik secara mengkhawatirkan karena pasar masih menghadapi meningkatnya surplus pada paruh kedua 2018," ujar IEA dalam laporan bulanannya.

Menurut IEA, secara kuantitas, pertumbuhan produksi minyak mentah AS pada 2019 akan lebih besar dari produksi Venezuela saat ini. Secara kualitas, hal tersebut lebih rumit.

"Kualitas penting," ujar IEA.

EIA memperkirakan produksi minyak mentah AS bakal tumbuh 1,45 juta bph tahun ini dan 790 ribu bph pada tahun depan sehingga produksi minyak AS bakal mencapai 13 juta bph pada 2020. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari produksi minyak shale AS.

Hal itu membuat persediaan minyak mentah dan produk kilang global membengkak. Imbasnya, margin pengelolaan kilang untuk bensin telah merosot.

(sfr/agt)