"Kami harapkan pada tahun 2019 biasanya dalam masa sebelum atau pasca pemilu konsumsi meningkat, dan kami berharap pada tahun ini untuk pertama kali industri ritel akan menyentuh pertumbuhan dua digit yang pertama yaitu sekitar 10 persen. Kalau memang peningkatannya luar biasa bisa sampai sekitar 12 persen," ujar Roy seperti dikutip dari Antara, Kamis (14/2).
Roy mengatakan pertumbuhan tersebut bisa menjadi obat penawar bagi penurunan kinerja ritel yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, kinerja ritel belakangan ini memang menurun 'undeperforms'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan berkaitan dengan produktivitas yang rendah, penurunan harga kelapa sawit dan batu bara, serta investasi masih bersifat portofolio. Roy mengatakan saat ini Ritel mendapatkan banyak dukungan. Salah satunya, dari investasi yang sudah mulai mengarah pada sektor manufaktur.
"Ada Dana Desa dan bantuan sosial yang meningkat tahun ini. Jadi peningkatan itu kami harapkan dapat meningkatkan produktivitas di level menengah ke bawah, sehingga mereka bisa memiliki pendapatan yang jelas serta tetap lalu pada akhirnya bisa berkonsumsi. Hal-hal inilah yang membuat dasar pertumbuhan atau berpindahnya industri ritel dari status 'underperforms' menjadi 'recovery,'" kata Roy.
Roy berharap daya beli tersebut tetap dijaga pemerintah dengan mempertahankan beberapa subsidi. "Subsidi energi juga kami minta (pemerintah) untuk dijaga, mengingat subsidi energi ini yang sangat mendukung kapasitas dari masyarakat kita khususnya masyarakat level menengah ke bawah dapat tetap berkonsumsi," katanya.
[Gambas:Video CNN]
(antara/agt)