Peringkat tersebut lebih baik dibandingkan Malaysia. Pasalnya, Malaysia berada di urutan 35. Peringkat tersebut kata Arcandra, juga mengungguli Aljazair, Rusia dan Mesir yang selama ini dikenal sebagai negara penghasil minyak.
"Penilaian yang diakui oleh lembaga riset global membuktikan pengelolaan sektor migas Indonesia belakangan ini berhasil mendorong kembali geliat investasi migas. Ini tak lepas dari upaya perubahan kebijakan fiskal pada pengusahaan di sektor migas," katanya seperti dikutip dari Antara, Jumat (15/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Kontrak Blok Rimau Diperpanjang sampai 2023 |
Perubahan rezim fiskal di bidang investasi migas tersebut diyakininya telah memberikan angin segar bagi investor di sektor migas. Perubahan kebijakan tersebut telah menciptakan efisiensi menggiurkan bagi para Kontraktor Kerja Sama Migas untuk berinvestasi di Indonesia.
Bukan hanya menguntungkan bagi investor, skema tersebut juga memberikan hasil bagi pemerintah. Data yang dimilikinya, penerapan skema fiskal baru tersebut telah memberikan pendapatan Rp31,5 triliun.
Pendapatan tersebut belum ditambah dengan bonus tanda tangan senilai Rp13,5 triliun yang diperoleh dari 39 kontraktor yang menggunakan sistem gross split. "Saya optimis perubahan fiskal ini sangat menjanjikan bagi perkembangan masa depan investasi migas di Indonesia," tegas Arcandra.
[Gambas:Video CNN] (antara/agt)