Sebagian mata uang utama negara-negara Asia bergerak bervariasi pada pagi hari ini. Yuan China dan won Korea Selatan sama-sama tercatat melemah 0,17 persen yang disusul oleh ringgit Malaysia yang juga melemah 0,01 persen.
Namun di sisi lain, dolar Singapura malah menguat 0,01 persen terhadap dolar AS, sementara yen Jepang dan peso Filipina masing-masing menguat 0,07 persen dan 0,15 persen. Di sisi lain, dolar Hong Kong tidak bergeming kepada dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah pada hari ini masih tertekan oleh sentimen negosiasi perang dagang antara AS dan China. Pasalnya, AS masih memperjuangkan hak kekayaan intelektual perusahaan AS agar tidak dikenakan bea masuk ke China. Seharusnya, keputusan itu akan diambil pada hari ini.
"Kalau sampai Sabtu tidak ada keputusan, pelaku pasar ada ketakutan. Permasalahan perang dagang yang lain selesai, tapi hak intelektual yang belum," ujar Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Jumat (15/2).
Secara angka, defisit ini tentu lebih rendah. Namun, pelaku pasar masih belum yakin, apakah penurunan defisit ini sudah terbilang bagus. Sebab, meski membaik, tetap saja neraca perdagangan punya titel defisit.
"Jadi saya meyakini kalau rupiah bisa saja mencapai angka Rp14.130 per dolar AS pada hari ini. Kalau menguat, paling angkanya ke arah Rp14.025 per dolar AS," imbuhnya.