Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.116 per dolar AS, atau melemah dibanding sehari sebelumnya Rp14.093 per dolar AS.
Sore hari ini, sebagian mata uang utama negara-negara Asia menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia mencatat pelemahan 0,41 persen, rupee India melemah 0,33 persen, dan won Korea Selatan 0,31 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Bursa RI dan Asia Kompak Melemah Tajam |
Sementara itu, mata uang negara-negara maju juga menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS, seperti euro yang melemah 0,19 persen dan dolar Australia yang melemah 0,22 persen. Sedangkan poundsterling Inggris tidak menunjukkan pergerakan terhadap dolar AS.
Badan Pusat Statitsik (BPS) mencatat, ekspor Januari tercatat US$13,87 miliar atau turun 4,7 persen secara tahunan. Dengan impor yang tercatat US$15,03 miliar, neraca perdagangan defisit US$1,16 miliar. Padahal, neraca perdagangan pada awalnya diprediksi hanya US$925,5 juta.
"Defisit neraca perdagangan, apalagi sampai di atas US$1 miliar adalah fenomena yang agak langka pada Januari. Biasanya neraca perdagangan malah mencetak surplus pada awal tahun. Sejak 2008, defisit perdagangan Januari hanya terjadi pada 2013, 2014, 2018, dan 2019," jelas Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Jumat (15/2).
Tak berhenti di sentimen domestik, ternyata rupiah juga harus tertekan dengan sentimen dari luar negeri. Utamanya dari pertemuan antara AS dan China terkait negosiasi perang dagang yang memasuki pembahasan mengenai hak intelektual.
Kemudian, sentimen juga hadir dari Inggris di mana Perdana Menteri Theresa May mendera kekalahan pada strategi Brexit pada Kamis kemarin. May telah merusak janjinya kepada para pemimpin Uni Eropa untuk mendapatkan persetujuan pemisahan.
"Inggris akan meninggalkan Uni Eropa pada 29 Maret tanpa kesepakatan, kecuali jika May dapat membujuk blok tersebut untuk mengubah kesepakatan pemisahan yang dia sepakati tahun lalu," pungkas dia. (glh/agi)