BI Ramal Pertumbuhan Kuartal I 2019 di Kisaran 5,18 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 21/02/2019 19:10 WIB
BI Ramal Pertumbuhan Kuartal I 2019 di Kisaran 5,18 Persen Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan ekonomi kuartal I 2019 ini akan bergerak sama dengan kuartal IV 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I 2019 tak akan jauh berbeda dari realisasi pada kuartal IV 2018 yang di kisaran 5,18 persen. Perkiraan mereka buat berdasarkan kondisi ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini yang terlihat tak jauh berbeda dibanding tiga bulan terakhir tahun lalu.

Sayang, Gubernur BI Perry Warjiyo enggan memberi proyeksi angka pasti untuk laju perekonomian pada kuartal I ini. "Pada kuartal I 2019 diperkirakan juga akan bergerak stabil kalau dibandingkan kuartal IV 2018, jadi momentum masih terjaga," ucap Perry di Kompleks Gedung BI, Kamis (21/2).

Perry menjelaskan proyeksi ini berasal dari pertimbangan kondisi perekonomian global dan domestik. Dari global, bayang-bayang perlambatan ekonomi sampai saat ini masih membayangi ekonomi Indonesia.


Hal ini tercermin dari harga komoditas di pasar internasional yang masih menurun, sehingga bisa berdampak ke kinerja perdagangan dunia, termasuk ekspor dari Indonesia.


"Tapi dari sisi keuangan global, ketidakpastian menurun karena normalisasi kebijakan moneter yang tidak sekuat sebelumnya dan stance (arah) kebijakan yang lebih dovish (tidak agresif)," terangnya.

Pada tahun lalu, The Fed mengerek bunga acuan sebanyak empat kali. Sementara untuk tahun ini, bank sentral nasional sempat memperkirakan Gubernur The Fed Jerome Powell hanya menaikkan bunga acuan sebanyak tiga kali. Namun proyeksi itu kemudian berkurang menjadi dua kali pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2019.

"Tapi kami baca lagi terakhir, The Fed kemungkinan hanya satu kali menaikkan bunga acuan. Kami melihat The Fed akan lebih menyesuaikan balance reduction mereka, itu akan lebih cepat," katanya.

Lebih lanjut ia menilai arah kebijakan The Fed itu akan memberi dampak positif kepada Indonesia. Sebab, tingkat bunga acuan The Fed yang tak banyak berubah akan membuat imbal hasil (yield) surat utang AS (US Treasury) tak terlalu menarik bagi investor.


Kondisi tersebut akan membuat investor bakal kembali melirik negara-negara berkembang (emerging market) seperti Indonesia untuk menanamkan modal yang dimilikinya. Potensi tersebut akan memberikan aliran modal asing yang masuk (capital inflow) ke tanah air.

Menurutnya, tren kembalinya modal asing ke Nusantara sebenarnya sudah terasa sejak kuartal IV 2018 lalu. Pada tiga bulan terakhir 2018, aliran modal asing mencapai US$12,5 miliar.

Perry mengatakan tren positif masuknya aliran modal asing ke dalam negeri terus berlanjut pada awal tahun ini. BI mencatat aliran modal asing pada Januari 2019 mencapai US$2,2 miliar.

"Ini terus terjadi pada Februari ini," imbuhnya.

[Gambas:Video CNN]

Tren positif aliran modal asing ke dalam negeri, sambungnya, akan berdampak positif ke perekonomian Indonesia pada kuartal I 2019. Aliran modal tersebut akan menambah kecukupan sumber dana atau likuiditas yang diperlukan lembaga keuangan dan korporasi di dalam negeri untuk memperluas usaha mereka.

"Dari sisi kebijakan makroprudensial pun, kami sedang kembangkan dan kaji lebih lanjut. Ini agar rasio likuiditas bisa meningkat, sehingga pembiayaan juga meningkat ke ekonomi riil. Tapi bentuknya apa? Tunggu tanggal mainnya," tuturnya.

Sementara dari kondisi ekonomi domestik, Perry meyakini berbagai kebijakan pemerintah akan berdampak bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Misalnya, dorongan untuk ekspor dan sektor pariwisata. Kebijakan-kebijakan di dua sektor itu akan menambah kontribusi keduanya bagi perekonomian nasional.

Selanjutnya, dampak stabilitas nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir diperkirakan juga menambah sentimen positif bagi perekonomian Tanah Air. Di pasar spot, mata uang Garuda berada di kisaran Rp14.072 per dolar AS pada Kamis (21/2) sore.


Selain itu, berdasarkan indikator penopang, Perry memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2019 masih akan didorong konsumsi rumah tangga dan lembaga non profit pendukung rumah tangga, seperti halnya kuartal IV 2018. Hal ini terjadi sebagai dampak dari persiapan jelang pesta demokrasi bertajuk pemilihan legislatif dan presiden pada 17 April mendatang.

"Secara keseluruhan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2019 tetap solid pada kisaran 5,0-5,4 persen," pungkasnya.
(uli/agt)