Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bank sentral nasional tidak mengubah tingkat suku bunga acuan agar Indonesia tetap menarik bagi investor asing. Sebab, tingkat bunga acuan saat ini membuat imbal hasil (yield) surat utang Indonesia masih cukup tinggi.
Suku bunga tersebut diyakini bisa membuat aliran modal asing masuk (capital inflow). Modal tersebut diharapkan bisa menambah sumber dana atau likuiditas bagi perbankan dan korporasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BI Tahan Suku Bunga di Level 6 Persen |
Meski dari sisi bunga simpanan atau deposito sudah dinaikkan lebih dulu dan cukup tinggi oleh kebanyakan perbankan. "Tapi dengan penambahan likuiditas di perbankan, perbankan tidak harus menaikkan suku bunga kredit dan juga bisa mendorong pertumbuhan kredit perbankan," ujarnya di Kompleks Gedung BI, Kamis (21/2).
"Jadi dari jalur suku bunga, kuantitasnya kami kendorkan," imbuhnya.
Di sisi lain, BI memandang bank tak perlu menaikkan tingkat bunga kredit karena bank sentral nasional tengah meramu kebijakan makroprudensial baru. Sayang, Perry masih enggan mengungkap seperti apa kebijakan tersebut.
Lihat juga:Bunga BI Tetap, IHSG Bertahan di Zona Hijau |
"Ini sudah kajian, bukan di awang-awang, tapi sudah konkrit. Artinya, time frame tidak akan lama-lama, tapi sesuatu yang sudah di-forward guidance-kan sekarang. Bentuknya apa? Tunggu tanggal mainnya," katanya.
Dari keseluruhan perhitungan tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan kredit bank akan mencapai kisaran 10-12 persen pada tahun ini. Target tersebut tidak berbeda dari tahun lalu. Sementara realisasi pertumbuhan kredit sebesar 11,75 persen pada tahun lalu. Sedangkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 6,5 persen pada tahun yang sama. (uli/agt)