Secara komposisi, peminat terbesar sukuk global ini berasal dari Timur Tengah dan Malaysia dengan komposisi 29 persen untuk green sukuk (sukuk hijau) dan 30 persen untuk sukuk reguler. Kemudian, Amerika Serikat menjadi peminat terbanyak kedua dengan porsi 23 persen untuk sukuk hijau dan 26 persen untuk sukuk reguler. Berada di urutan ketiga ialah Eropa dengan porsi 22 persen untuk sukuk hijau dan 21 persen untuk sukuk reguler.
Berdasarkan jenis investor, fund manager dan asset manager membeli sukuk global dengan porsi terbesar yakni mencapai 31 persen untuk sukuk hijau dan 49 untuk sukuk reguler. Selain itu, institusi perbankan dengan porsi 23 persen untuk sukuk hijau dan 32 persen untuk sukuk reguler.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, SNI 0229 adalah sukuk reguler dengan nilai US$1,25 miliar bertenor 10 tahun yang memiliki imbal hasil 4,5 persen. Nantinya, perolehan dana akan sukuk global ini akan digunakan untuk kebutuhan pembiayaan umum.
Tahun lalu, pemerintah juga sukses menerbitkan sukuk global dengan nilai penerbitan sebesar US$3 miliar, atau setara Rp40,2 triliun, pada 22 Februari 2018. Penerbitan ini terdiri dari penerbitan sukuk global green bond bertenor lima tahun sebesar US$1,25 miliar dan sukuk hijau dengan masa tenggat waktu 10 tahun bernilai US$1,75 miliar.
Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) bruto tahun ini tercatat di angka Rp825,7 triliun sesuai APBN 2019. Angka ini meningkat 6,57 persen dibanding realisasi penerbitan SBN tahun kemarin, yakni Rp774,61 triliun. Namun, secara target, penerbitan SBN ini lebih rendah 3,59 persen dari target tahun lalu Rp856,49 triliun.
Dari jumlah tersebut, rencananya 14 persen hingga 17 persen SBN akan diterbitkan dalam bentuk SBN valuta asing yang ditujukan sebagai komplementer demi menghindari crowding out effect di dalam negeri. Crowding out effect merupakan aksi berebut dana antara pemerintah dan korporasi dalam menghimpun dana. (lav/lav)