Kontribusi Industri nonmigas Luar Jawa Diramal Naik 60 Persen

CNN Indonesia | Senin, 25/02/2019 10:30 WIB
Kontribusi Industri nonmigas Luar Jawa Diramal Naik 60 Persen Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menjelaskan pengembangan kawasan industri baru di luar Jawa diarahkan pada sektor manufaktur berbasis sumber daya alam. (CNN Indonesia/Christie Stefanie).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah memproyeksi akan terjadi peningkatan kontribusi industri pengolahan nonmigas di luar Jawa, terutama wilayah Indonesia Timur, sebesar 60 persen dibanding Jawa.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menjelaskan pengembangan kawasan industri baru di luar Jawa diarahkan pada sektor manufaktur berbasis sumber daya alam. Tujuannya, untuk menerapkan kebijakan hilirisasi demi meningkatkan nilai tambah bahan baku di dalam negeri.

"Kami memproyeksi akan terjadi peningkatan kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas di luar Jawa sebesar 60 persen dibanding di Jawa," ujar Airlangga seperti dikutip dari keterangan tertulis, Senin (25/2).


Pihaknya mengklaim sedang mengakselerasi pembangunan kawasan industri di luar Jawa sebagai upaya memacu pemerataan terhadap pembangunan dan perekonomian yang inklusif.

Khusus wilayah Indonesia Timur, kawasan industri yang telah beroperasi di Provinsi Sulawesi Tengah pada periode 2015-2017 antara lain, kawasan industri Morowali dan Palu. kawasan industri Bantaeng di Sulawesi Selatan serta kawasan industri Konawe di Sulawesi Tenggara.


"Untuk kawasan industri di Morowali, Bantaeng, dan Konawe, kami fokuskan pada industri berbasis pengolahan nikel. Sedangkan, di Palu sebagai klaster industri yang berbasis olahan rotan dan agro," sebut Airlangga.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, di kawasan industri Palu sudah ada 14 tenant, kawasan industri Bantaeng terdapat 11 tenant, kawasan industri Morowali telah ditempati 10 tenant, dan kawasan industri Konawe sekitar 6 tenant.

Kawasan industri yang masih dalam tahap konstruksi dan diperkirakan rampung pada 2019 ialah Bitung, Sulawesi Utara. Secara rinci disebutkan, pengembangan industri difokuskan pada pengolahan perikanan dan kelapa beserta produk turunannya.

Sebagai gambaran, hilirisasi sudah terjadi di Morowali yakni dari komoditas nickel ore yang seharga US$40-60 menjadi stainless steel yang harganya di atas US$2.000. Ekspor komoditas dari Morowali tercatat US$4 miliar, sementara investasi meningkat menjadi US$5 miliar.


"Jumlah penyerapan tenaga kerja di sana terbilang sangat besar hingga 30 ribu orang, dengan komposisi 27 ribu tenaga kerja lokal dan 3 ribu tenaga kerja China. Jadi, tidak benar kalau banyak tenaga kerja asing," ungkapnya.

Kemenperin juga mendorong percepatan pembangunan kawasan industri Teluk Bintuni yang berfokus pada pengembangan industri petrokimia di Papua Barat. Langkah yang akan dilakukan melalui skema kerja sama Permerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Selain itu, wilayah Papua juga memiliki potensi pengembangan industri turunan dari komoditas tambang, dan pabrik semen. Selain itu, sektor manufaktur untuk pengolahan kopi, sagu, dan buah merah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Papua pada 2018, perekonomian Papua tumbuh 7,33 persen, angka tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 4,64 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh seluruh lapangan usaha.


Pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 10,52 persen, dan didukung oleh produksi bijih logam yang cukup tinggi. Lapangan usaha lain yang mendorong pertumbuhan ekonomi Papua, di antaranya adalah lapangan usaha transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,16 persen. (lav/agi)