"Bisa jadi (kenaikan harga beras eceran ini) ini dipengaruhi karena masih ada stok di bulan sebelumnya, di mana harganya masih tinggi," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Yunita Rusanti di kantornya, Jumat (1/3).
Pernyataan Yunita terkonfirmasi mengingat rata-rata harga beras grosir juga menanjak sebesar 0,09 persen bulan lalu. Pada Januari 2019, harga beras grosir juga masih meningkat 0,87 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu tercermin dari harga beras di tingkat produsen atau penggilingan pada Februari 2019 yang sudah turun, baik untuk kualitas beras premium, medium, maupun rendah.
Harga gabah juga cenderung melandai. Untuk rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani turun 4,46 persen dibandingkan Januari 2019 menjadi Rp5.114 per kg. Penurunan juga terjadi pada rata-rata harga GKP di tingkat penggilingan sebesar 4,24 persen menjadi Rp5.222 per kg.
Selanjutnya, untuk gabah kualitas rendah (GKR) juga merosot. Di tingkat petani, GKR turun sebesar 1,63 persen menjadi Rp4.616 per kg. Di tingkat penggilingan, harga GKR juga turun 1,64 persen menjadi Rp4.712 per kg.
Sementara itu, harga gabah kering giling (GKG) masih tercatat menanjak walaupun masih di bawah 1 persen. Di tingkat petani, rata-rata harga GKR naik 0,83 persen menjadi Rp5.828 per kg. Kenaikan juga terjadi pada harga gabah di tingkat penggilingan sebesar 0,84 persen menjadi Rp5.952 per kg.
Lebih lanjut, Yunita menilai harga beras dan gabah pada Maret 2019 masih berpeluang untuk turun. Pasalnya, petani memasuki puncak musim panen.
"Mudah-mudahan harga beras di Maret 2019 lebih rendah. Kami tidak tahu apakah inflasi atau deflasi. Harapannya kalau inflasi jangan tinggi-tinggi," ujarnya.
[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)