Direktur Industri Kimia Hilir Kemenperin Taufiek Bawazier mengungkapkan kebijakan plastik berbayar akan menurunkan permintaan. Bila sudah begitu, produsen plastik tentu akan mengurangi jumlah produksi dan pendapatan tak lagi setinggi sebelumnya.
"Poinnya, kebijakan ini (plastik berbayar) akan mendistorsi pertumbuhan industri plastik nasional dan tidak membuat daya saing ke arah yg lebih baik," ungkap Taufiek kepada CNNIndonesia.com, Senin (4/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak mau spekulasi. Data bisa dilihat tiga bulan ke depan ya. Produksi plastik sekitar 350 ribu ton per tahunnya," kata Taufieq.
Namun, beberapa ritel yang dikunjungi CNNIndonesia.com pada akhir pekan lalu masih memberikan kantong plastik secara cuma-cuma kepada konsumen. Alfamidi, Indomaret, Carrefour, dan Hypermart mengaku masih melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebelum mengimplementasikan kebijakan plastik berbayar.
Taufiek menyatakan tak sependapat dengan alasan yang digunakan pengusaha ritel tersebut. Menurutnya, persoalan sampah plastik pun tidak semata-mata selesai dengan penerapan kebijakan plastik berbayar.
[Gambas:Video CNN]
"Plastik berbayar seharusnya diganti dengan upaya pengelolaan sampah yang baik sehingga tujuan pengurangannya dapat dicapai tanpa mengganggu industri," papar Taufiek.
Taufiek mengatakan industri plastik memiliki peran besar. Data Kementerian Perindustrian, industri plastik dan karet menyumbang Rp92,7 triliun untuk Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sepanjang tahun lalu.
Sumbangan tersebut meningkat 6,92 persen dari posisi 2017. "Jika industri plastik diganggu dengan keputusan yang tidak sejalan dengan kemajuannya, maka upaya meningkatkan PDB dan pajak dari sektor plastik juga akan terganggu," jelas Taufiek.
Ia menambahkan pihaknya belum memiliki rencana berdiskusi dengan peritel modern agar mereka mengkaji kembali kebijakan plastik berbayar. Menurutnya, hal itu menjadi tugas Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang membawahi langsung toko ritel modern.
(aud/agt)