Prediksi UBS itu juga di bawah capaian pertumbuhan ekonomi 2018 yang sebesar 5,17 persen.
Ekonom Senior ASEAN UBS Invesment Bank Edward Teather mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi global. Ekonomi Amerika Serikat (AS) dan China diprediksi melambat tahun ini, sehingga turut berdampak ke laju ekonomi Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Edward melanjutkan pelemahan pertumbuhan ekonomi Indonesia juga dipengaruhi faktor pertumbuhan investasi yang diprediksi belum menggeliat. Tahun lalu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat investasi sepanjang 2018 hanya tumbuh 4,1 persen menjadi Rp721,3 triliun dari posisi 2017 sebesar Rp692,8 triliun. Persentase itu melambat dibanding realisasi pertumbuhan 2017 yang mencapai 13,1 persen.
Di sisi lain, UBS meramalkan defisit neraca transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) bisa ditekan menjadi 2,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dari sebelumnya 3 persen dari PDB. bank Indonesia mencatat, defisit neraca transaksi berjalan sepanjang 20218 sebesar US$31,1 miliar. Angka itu membengkak dari posisi defisit transaksi berjalan pada 2017 sebesar US$17,31 miliar.
Edward mengatakan penurunan defisit ini bisa membantu pergerakan nilai tukar rupiah tahun ini. Selain itu, perbaikan defisit bisa mengurangi imbal hasil obligasi 2019.
Lihat juga:LinkAja dan 'Mimpi' BUMN Geser Gopay dan OVO |
"Ini mencerminkan Indonesia tidak terpengaruh signifikan terhadap kondisi pengetatan pasar keuangan global," ujar Edward. (ulf/lav)