Di urutan pertama dan kedua, terdapat nama dua bersaudara R. Budi Hartono dan Michael Hartono. Total kekayaan mereka masing-masing mencapai US$18,6 miliar atau Rp262,863 triliun (kurs Rp14.132 per dolar AS) dan US$18,5 atau Rp261,450 triliun.
Dua bersaudara ini, mendapatkan dua per tiga kekayaan dari investasi yang mereka lakukan di Bank Central Asia (BCA). Mereka berdua, membeli saham BCA dari keluarga Salim yang terpukul oleh krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada era 1997-1998 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain dari sektor perbankan, pundi-pundi uang mereka juga berasal dari industri rokok Djarum yang mereka warisi dari orang tua mereka. Total produksi rokok Djarum ditaksir mencapai 48 miliar batang per tahun atau mencapai 20 persen dari total produksi nasional.
Di urutan ketiga, Sri Prakash Lohia. Forbes mencatat total kekayaan pengusaha kelahiran Kalkuta India 66 tahun lalu tersebut mencapai US$7,3 miliar atau Rp103,16 triliun.
Lihat juga:Kutukan Raja Sawit di Era SBY hingga Jokowi |
Kekayaan tersebut berasal dari Indorama, perusahaan petrokimia dan tekstil yang ia rintis bersama ayahnya Mohan Lal Lohia. Di urutan ketiga, terdapat nama Dato Sri Tahir.
Pendiri Mayapada Group tersebut menduduki posisi orang terkaya Indonesia nomor empat dan dunia nomor 424. Total kekayaan yang ia miliki mencapai US$4,5 miliar atau setara Rp63,67 triliun.
Sumbangan penerimaan berasal dari sektor perbankan, layanan rumah sakit dan juga real estate.
Sedangkan di urutan ke lima, terdapat nama Chairul Tanjung. Forbes mencatat, total kekayaan lelaki yang biasa disebut dengan CT tersebut mencapai US$3,7 miliar atau setara Rp49,5 triliun.
Pundi-pundi penghasilan CT berasal banyak lini bisnis; perbankan, media, perkebunan, ritel hingga properti.