Sebagian mata uang utama Asia terlihat menguat pagi hari ini. Won Korea Selatan menguat 0,41 persen, ringgit Malaysia menguat 0,22 persen, sementara dolar Singapura dan baht Thailand sama-sama menguat 0,09 persen. Peso Filipina pun tak mau ketinggalan dengan penguatan sebesar 0,19 persen.
Di sisi lain, yen Jepang terlihat melemah terhadap dolar AS dengan nilai 0,2 persen. Sementara dolar Hong Kong terlihat tidak bergeming terhadap dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis Monex Investindo Faisyal mengatakan penguatan rupiah hari ini disebabkan ada kemajuan dari negosiasi keluarnya Inggris dari Uni Eropa, atau biasa disebut Brexit. Kemarin, Perdana Menteri Inggris Theresa May dikabarkan telah menyetujui perjanjian baru dengan Uni Eropa terkait kesepakatan 'cerai' dan deklarasi hubungan politik Inggris dan Uni Eropa di masa depan.
"Mungkin kini tinggal wait and see saja terkait voting Brexit. Jika nanti hasilnya voting Brexit jelek, ya nanti malah menguatkan dolar AS," jelas Faisyal kepada CNNIndonesia.com, Selasa (12/3).
Kemudian, pelaku pasar juga menanti pidato Gubernur The Fed Jerome Powell pada pekan ini. Jika topiknya menyangkut optimisme pertumbuhan ekonomi AS, ada peluang rupiah akan terjungkal lagi esok harinya.
Lihat juga:IHSG Diprediksi Masih Betah di Zona Merah |
Pernyataan The Fed, lanjut dia, bisa semakin memukul rupiah setelah rilis pada Senin (11/3) malam menunjukkan data penjualan ritel AS pada Februari tumbuh di angka 0,2 persen dalam perhitungan bulanan, atau membaik dari Januari yang mencatat penurunan 1,6 persen
"Jadi untuk hari ini, saya perkirakan batas bawah rupiah di angka Rp14.200 per dolar AS dengan batas atas Rp14.380 per dolar AS," terang dia. (glh/lav)