Sejak kebijakan tersebut diterapkan, rata-rata transaksi saham di pasar saham meningkat dari Rp8,5 triliun menjadi Rp10 triliun. Sebagai informasi dengan penerapan T+2, artinya hak dan kewajiban pelaku pasar dalam melakukan transaksi beli dan jual akan diselesaikan hanya dalam dua hari setelah transaksi itu dilakukan.
Sebelumnya, transaksi diselesaikan dalam waktu tiga hari alias T+3. Direktur Utama Inarno Djajadi mengatakan kebijakan T+2 berhasil menjaring lebih banyak transaksi karena penyelesaian yang lebih cepat. Transaksi ini mencakup jual dan beli saham.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk jumlah frekuensi sudah lebih tinggi daripada Thailand. Rata-rata Thailand masih 380 ribu kali, Indonesia 436 ribu kali," jelas Inarno.
Selanjutnya, Inarno optimistis transaksi pasar saham masih akan stabil meski tahun ini pemerintah menyelenggarakan pesta demokrasi berupa pemilihan presiden (pilpres) pada April mendatang. Hal itu mengacu pada tahun-tahun sebelumnya ketika pilpres berlangsung, tapi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap perkasa.
[Gambas:Video CNN]
"Untuk pilpres sebelumnya 2004, 2009, 2014 baik-baik saja, korelasi tidak banyak. Tahun ini diharapkan korelasi dari pilpres juga tidak banyak," kata Inarno.
Mengutip data BEI, IHSG pada 2004 naik sebesar 44,56 persen, kemudian pada 2009 naik 86,98 persen dan 2014 naik 22,29 persen. Sementara, IHSG sejak awal tahun hingga perdagangan terakhir terpantau menguat 4,74 persen. (aud/agt)