"Kami pertimbangkan semua, tadi saya sudah sebutkan beberapa. Dalam hidup ini harus punya pilihan. Kami tidak mau didikte. Kami harus tegas," ujar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dalam Briefing terkait Diskriminasi Uni Eropa terhadap produk sawit di Kantor Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Jakarta, Rabu (20/3).
Luhut menyebutkan Indonesia selama ini memiliki hubungan baik dengan UE. Indonesia memerlukan investasi dari perusahaan Eropa untuk membangun perekonomian dalam beberapa dekade mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Indonesia saat ini merupakan importir truk, pesawat, hingga bus.
Luhut mengingatkan sektor penerbangan di Indonesia akan meningkat tiga kali lipat pada 2034 dengan mencapai 270 juta penumpang per tahun. Konsekuensinya, Indonesia membutuhkan sekitar 2.500 tipe Airbus A320 maupun Boeing 738-800 dalam dua tahun ke depan.
"Angka tersebut cukup besar, lebih dari US$40 miliar dan akan menciptakan kira-kira 250 juta lapangan kerja di Eropa maupun di Amerika," ujarnya.
[Gambas:Video CNN]
Luhut mengungkapkan industri sawit memiliki peran yang signifikan dalam perekonomian Indonesia. Selain menyumbangkan devisa, hampir 20 juta pekerja yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung di dalamnya.
Industri kelapa sawit juga membantu menekan angka kemiskinan yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Karenanya, pemerintah menentang keras tindakan diskriminasi terhadap produk sawit yang dilakukan oleh UE."Kalau sampai kepada upaya bertahan kami, kami akan lakukan apapun," ujarnya.
Senada dengan Luhut, Menteri Koordinatir Bidang Perekonomian Darmin Nasution juga membuka opsi retaliasi. "Bisa saja retaliasi. Memangnya kenapa? Kalau dia sepihak masa kita tidak bisa sepihak," ujarnya.
Namun, sebelum ke sana, pemerintah akan membawa masalah diskriminasi Uni Eropa ke Oraganisasi Perdagangan Dunia (WTO)." Kalau bertengkar forumnya di WTO. Kami akan uji di sana," ujarnya.