Wakil Kepala LD FEB UI Paksi C K Walandouw menjelaskan kenaikan sumbangan Gojek tersebut terjadi karena sampel yang digunakan lembaga riset itu berbeda antara tahun lalu dan 2018. Misalnya, pada 2017 yang digunakan untuk riset hanya kepada mitra Go-Ride dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Sementara, tahun lalu sampel mencakup empat indikator, yaitu mitra Go-Ride, Go-Car, mitra UMKM Go-Food, dan Go-Life. Bila dirinci, sumbangan mitra Go-Ride pada 2017 sebesar Rp8,2 triliun dan tahun lalu naik menjadi Rp16,5 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mitra Go-Car, kontribusi yang diberikan mencapai Rp8,5 triliun dan Go-Life Rp1,2 triliun. Untuk Go-Life ini menyangkut Go-Clean dan Go-Massage.
Ia mengatakan riset ini dilakukan di sembilan kota untuk Go-Ride, Go-Car, dan Go-Food, antara lain Balikpapan, Bandung, Denpasar, Jabodetabek, Makassar, Medan, Palembang, Surabaya, dan Yogyakarta. Kemudian, khusus Go-Life hanya di enam kota, yakni Bandung, Denpasar, Jabodetabek, Surabaya, Medan, Yogyakarta.
"Penelitian ini melibatkan 6.732 responden, terdiri dari 3.886 mitra Go-Ride, 1.010 mitra Go-Car, 1.000 mitra UMKM, dan 836 mitra Go-Life," terang dia.
[Gambas:Video CNN]
Tahun ini, ia meyakini sumbangan mitra Gojek keseluruhan akan kembali meningkat seiring dengan penambahan jumlah mitra dan pendapatannya. Penyumbang terbesar diprediksi masih dari Go-Ride.
"Karena Go-Ride masih jadi pilihan yang murah, yang lain masih lebih mahal," pungkas Paksi.
(aud/agt)