Ketua Peternak Rakyat dan Peternakan Mandiri (PRPM) Sugeng Wahyudi mengatakan saat ini harga ayam hidup di wilayah Jawa Tengah (Jateng), Yogyakarta, dan Solo telah menyentuh posisi Rp10.500 per kilogram (kg). Sedangkan, di wilayah Jawa Barat (Jabar) mencapai Rp13.000 per kilogram (Kg).
"Harga-harga jauh di bawah biaya pokok produksi di kisaran Rp19.500 per Kg. Kondisi ini sudah berlangsung hampir tujuh bulan dan ini memberatkan peternak," katanya di kantor Kementerian Perdagangan, Rabu (27/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sugeng, jatuhnya harga ayam hidup dipicu kelebihan produksi ayam hidup (over supply) dan tingginya biaya sarana produksi. Faktor saran produksi ini meliputi Day Old Chick (DOC) dan pakan ternak.
Hitung-hitungan kasar saja, modal beternak ayam hidup sebesar Rp20.000 per Kg. Namun, ketika panen mereka justru merugi sebesar Rp5.000 per Kg karena harga jual yang anjlok. Padahal, dalam tujuh bulan tersebut mereka sudah panen sebanyak empat kali.
"Artinya peternak sudah rugi 100 persen. Selama empat kali panen habis lah uang kami, bahkan saya sudah jual ruko, jual mobil. Artinya, peternak ayam ini tidak baik-baik saja," katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti mengatakan pihaknya akan bekerja sama dengan Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (Arphuin) dan Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) untuk menyerap produksi ayam hidup peternak.
Mereka akan membeli ayam hidup dari tangan peternak di harga Rp18.000 per Kg. "Paling tidak kami angkat ke Rp18.000 dulu semoga nanti bisa ke Rp20.000 lagi," tuturnya.
Keduanya akan membeli ayam hidup dari petani pada periode 1-21 April 2019. Pada periode tersebut, Kemendag akan mengevaluasi harganya setiap hari.
"Kami coba untuk awal ini, karena nanti bulan puasa diprediksi permintaan naik lagi, kalau bulan ini permintaan ayam kurang, sehingga membuat harga jatuh," tukasnya.
[Gambas:Video CNN] (ulf/bir)