Survei China Beige Book International (CBB) yang dilakukan secara kuartalan terhadap ribuan perusahaan China memberi gambaran mengejutkan tentang perubahan kondisi bisnis setelah periode buruk pada kuartal keempat 2018. Saat itu, pertumbuhan ekonomi China melemah ke level terdalam sejak krisis keuangan.
Bank-bank di China menggelontorkan pinjaman dengan rekor 3,23 triliun yuan (setara US$477 miliar) pada Januari 2019, karena para pembuat kebijakan mencoba mendorong investasi yang lesu dan mencegah perlambatan ekonomi yang lebih tajam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perusahaan-perusahaan swasta meminjam lebih banyak daripada perusahaan-perusahaan milik negara pada kuartal pertama," kata CBB seperti dikutip dari Antara, Rabu (27/3).
Sejumlah perusahaan mengklaim akses terhadap kredit membaik, meski dengan tingkat bunga yang lebih tinggi, di saat bank sentral berupaya untuk menurunkan biaya pembiayaan.
"Kredit sangat mahal. Biaya kredit perlu distabilkan lebih lanjut atau reli saat ini akan goyah. Pemberi shadow banking mengenakan tarif yang sangat tinggi," demikian hasil riset CBB.
Pada awal Maret, Perdana Menteri Li Keqiang mengumumkan potongan pajak tambahan dan belanja infrastruktur hingga miliaran dolar tahun ini.
Faktor kepercayaan bisnis China meningkat seiring dengan upaya dukungan pemerintah terhadap perusahaan dalam negeri. Ditambah pula dengan kemajuan pembicaraan perdagangan AS-China. (antara/lav)