"Minggu lalu, posisi (aliran modal) kita (Indonesia) net surplus atau net inflow sekitar Rp15 triliun hingga Rp16 triliun ekuivalen rupiah. Sejak awal tahun sudah mendekati Rp90 triliun dari Januari sampai posisi minggu kemarin," ujar Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di kompleks BI, Jumat (29/3).
Dody mengungkapkan selama sepekan terakhir, pasar keuangan global mendapatkan tekanan dari berbagai isu. Hal itu terutama berasal dari proyeksi pertumbuhan ekonomi di Eropa yang menurun karena perlambatan ekonomi di Perancis dan Jerman, serta ketidakpastian dari kelanjutan keputusan Inggris dari Uni Eropa (Brexit).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rupiah sendiri memang mengalami depresiasi selama seminggu terakhir sebesar 0,5 persen meskipun secara year to date masih terapresiasi 0,9 persen," ujarnya.
Risiko defisit transaksi berjalan masih membayangi. Namun, kebijakan BI dan pemerintah telah diarahkan untuk mengurangi tekanan dari risiko tersebut. Salah satunya dengan mendorong ekspor dan mengurangi impor.
"BI sendiri memiliki program-program prioritas untuk mendorong devisa ekspor seperti di pariwisata maupun sektor quick win seperti otomotif, alas kaki, dan tekstil. Sektor-sektor tersebut memiliki daya saing yang baik," ujarnya.
Di sisi transaksi finansial, pasar keuangan domestik akan dijaga agar menarik di mata investor. Caranya dengan memberikan tingkat pengembalian yang lebih baik dibandingkan negara lain yang setara serta menjaga fundamental perekonomian domestik.
"Di situlah kunci kita bisa menarik dana asing masuk ke Indonesia," ujarnya. (sfr/lav)