Bank Indonesia (BI) melansir dari total utang tersebut, utang swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendominasi hingga US$194,9 miliar. Sedang sisanya US$193,8 miliar berasal dari utang pemerintah dan bank sentral.
Posisi utang pemerintah pada Februari 2019 sebesar US$190,8 miliar atau tumbuh 7,3 persen. Pertumbuhan utang itu terutama dipengaruhi oleh arus masuk dana investor asing di pasar SBN domestik. "Yang menunjukkan peningkatan kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia," tulis BI dalam keterangan resmi, Senin (15/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masuknya aliran dana utang kepada pemerintah, BI mengklaim memberikan kesempatan lebih besar bagi pembiayaan belanja negara dan investasi pemerintah.
Sementara, utang swasta sebesar US$1,3 miliar atau meningkat 10,8 persen. Utang swasta ini sebagian besar dimiliki oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, industri pengolahan, pengadaan listrik, gas, uap/air panas (LGA), serta pertambangan dan penggalian.
"Pangsa (porsi) utang keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 74,2 persen," imbuh BI.
Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto tercatat 36,9 persen per Februari 2019. Rasio ini diklaim tak banyak berubah dibandingkan bulan sebelumnya atau ada di kisaran rata-rata negara peers.
Selain itu, berdasarkan jangka waktunya, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh utang berjangka panjang dengan porsi 86,3 persen. "Dengan perkembangan itu, meski ULN Indonesia meningkat, namun strukturnya tetap sehat," tegas BI.
[Gambas:Video CNN] (bir)