Pencapaian tersebut berbanding terbalik dengan kondisi tiga hari jelang pilpres, di mana investor asing tercatat jual bersih (net sell) lebih dari Rp1 triliun pada Jumat (12/4), dan sekitar Rp200 miliar-Rp300 miliar pada Senin dan Selasa, 15-16 April 2019 lalu.
Transaksi asing ini yang kemudian menjadi motor penggerak IHSG kembali ke area 6.500 setelah beberapa waktu terakhir betah di berada di level 6.300-6.400. Bahkan, tadi pagi sempat tembus ke level 6.629.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pemerintahnya sama kan kebijakannya juga kemungkinan besar perubahannya kecil, program lama dilanjutkan, jadi positif," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (18/4).
"Pasar kan tidak suka ketidakpastian," imbuh Al Fatih.
Di tengah euforia pasar yang tinggi, ia menyarankan pasar jangan terlena dengan masuk ke saham yang valuasinya sudah mahal. Sebab, keuntungan yang diterima pelaku pasar nantinya tak seberapa.
"Jangan sampai terjebak beli saham-saham mahal, coba lihat lagi kondisi fundamentalnya," jelasnya.
Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, penguatan IHSG disokong sejumlah saham berkapitalisasi besar (big capitalization/big cap), seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan kenaikan sebesar 3,37 persen ke level Rp28.400 per saham.
Kemudian, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 2,76 persen ke level Rp4.460 per saham, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 2,62 persen ke level Rp7.825 per saham. (aud/bir)