Biang Keladi Pasar Saham Jeblok Beberapa Hari usai Pilpres

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Selasa, 23/04/2019 13:12 WIB
Biang Keladi Pasar Saham Jeblok Beberapa Hari usai Pilpres Ilustrasi pasar saham. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasar saham Indonesia jeblok pada perdagangan Senin (22/4). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ke area 6.400 usai merosot 1,42 persen.

Pemandangan ini berbeda 180 derajat dengan perdagangan Kamis (18/4) lalu. Saat itu, IHSG sempat naik lebih dari 1 persen dan berhasil tembus ke area 6.500.

Pelaku pasar saat itu seakan tenggelam dalam euforia kemenangan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres dan cawapres) Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam hasil perhitungan cepat (quick count) yang dilakukan berbagai lembaga survei. Tak hanya lokal, transaksi asing turut menyemarakkan pergerakan IHSG akhir pekan lalu.


Jika dilihat, pelaku pasar asing tercatat beli bersih(net buy) mencapai Rp1,42 triliun pada Kamis (18/4) lalu. Namun, pada Senin (22/4) transaksi beli bersih investor asing hanya Rp56,37 miliar.


Sejumlah analis saham menilai kondisi ini dipengaruhi sikap pasangan capres dan cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang mengklaim menang dalam pemilihan presiden (pilpres) 2019 atas perhitungan cepat yang dilakukan secara internal. Namun, hal itu sebenarnya tak menjadi sentimen utama.

"Mungkin ada (terkena sentimen politik kemenangan Prabowo-Sandiaga) tapi tidak signifikan yah potensi nya. Data perhitungan juga belum semua masuk," ungkap Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki kepada CNNIndonesia.com, Senin (22/4).

Kondisi politik di sebuah negara memang mempengaruhi sikap pelaku pasar dalam berinvestasi saham. Semakin kondusif, minat pelaku pasar untuk melakukan transaksi beli akan banyak. Sebaliknya, pasar akan meninggalkan saham jika kondisi politik dianggap tak aman.

"Menurut saya sekarang masih kondusif," terang dia.

Sekadar mengingatkan, Prabowo terus pamer kemenangan yang diraih dari hasil perhitungan cepat ala kubu nomor urut 02 tersebut. Malam hari usai mencoblos pada Rabu (17/3) lalu, ia langsung melakukan sujud syukur atas kemenangannya tersebut.

Tak cukup sekali, Prabowo kembali mengungkapkan rasa syukurnya dengan sujud syukur pada Jumat (19/4) di Masjid Al-Azhar. Sayang, ia melakukan itu tanpa ditemani pasangannya, Sandiaga.
[Gambas:Video CNN]
Achmad menyatakan penurunan IHSG lebih disebabkan karena pasar khawatir dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS). Pasalnya, The Fed berpotensi mengerek suku bunga acuan dari posisinya sekarang di level 2,25-2,5 persen.

"Lebih ke global karena ada ke khawatiran The Fed menaikkan bunga acuannya di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global," tutur dia.

Selain itu, pelaku pasar juga bersikap menunggu (wait and see) jelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pertengahan pekan ini. Bank sentral nasional akan mengumumkan hasil rapatnya terkait suku bunga acuan pada 25 April 2019.

"Lalu juga memasuki musim laporan keuangan kuartal I 2019," ucap Achmad.


Senada dengan Achmad, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menyebut gejolak politik pasca pilpres berpengaruh kecil bagi IHSG. Pelemahan indeks lebih disebabkan aksi bom di Sri Lanka.

"Bom di Sri Lanka tampaknya pasar khawatir. Jadi ada kekhawtairan sesaat ini," ujar Hans.

Ledakan di Sri Lanka terjadi pada Minggu (21/3) kemarin di sejumlah gereja dan hotel. Kejadian itu menelan hingga 290 korban jiwa dan 500 korban luka-luka.

Lalu, mata uang dolar AS juga perkasa terhadap rupiah. Padahal, sebelumnya rupiah sempat berada di area Rp13.900 per dolar AS.

"Ini juga pengaruh dari perlambatan ekonomi Eropa, ekonomi melambat jadi mata uang Euro melemah dan dolar AS menguat," sambung Hans.


Sementara, pasar saham Indonesia tak banyak punya sentimen positif. Laporan keuangan kuartal I 2019 belum banyak yang keluar.

Bila kinerja keuangan emiten sudah dirilis, Hans menyebut ada penopang yang bisa menahan pelemahan IHSG tak seanjlok sekarang. Setidaknya, pelaku pasar masih terdorong melakukan transaksi beli jika emiten sudah menerbitkan neraca keuangannya yang terbaru.

"Kemudian juga kondisi ini karena pada ambil untung, karena sebelumnya juga sudah naik sekali," terang dia.

Dalam jangka pendek, Hans meramalkan IHSG bangkit (rebound) dengan pergerakan yang terbatas. Ia melihat IHSG akan betah di area 6.400. (agi)